Tantangan Pesantren Kajen di Arus Modernitas
Oleh: Taufiqur Rohman
Kata Kunci: Pesantren, Teknologi, Perubahan, Perilaku, Pola Pikir, Santri.
A. Pendahuluan
Sebagai perkampungan keagamaan Islam yang distigmatisasikan sebagai desa santri, Desa Kajen[1] kini telah mengalami perkembangan intelektualitas yang cukup mengagumkan[2]. Desa kecil yang sarat akan potensi ini telah banyak memberikan sumbangsih kepada negara baik dalam pendidikan maupun ekonomi.
Dalam pendidikan, sejak berkembangnya pendidikan keagamaan melalui pondok pesantren dan madrasah desa Kajen terbukti mencetak ratusan bahkan ribuan intelektual yang tersebar di seluruh nusantara ini. Kyai Sahal (Ketua Umum MUI Pusat dan Ra’is Aam PBNU), Anis Malik, Ulil Absor Abdalla adalah contoh sebagian kecil intelektual dari desa ini. Ketiga contoh itu bermula dari hasil didikan pesantren desa Kajen.
Dari segi perekonomian, meski desa ini lebih kecil di banding dengan desa sekitarnya, seperti Waturoyo, Ngemplak, Bulumanis, namun memiliki kelebihan di dalam peningkatan perekonomian umat. Hal tersebut tidak lepas dari andil keberadaan pesantren yang menjadikan sumber utama penghasilan masyarakat Kajen[3].
Seiring dengan berkembangnya teknologi, hasil out put pendidikan pesantren Kajen tidak terlepas dari peranan dan fungsinya. Melalui internet, hand phone merupakan bagian dari teknologi yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perubahan prilaku dan pemikiran seseorang. Pola pikir ataupun gaya hidup para santri pun tak terlepas dari perkembangan teknologi yang begitu pesat.
Peran sebuah teknologi ibarat sebuah pisau yang tajam. Bila digunakan kepada hal positif, pisau akan memberikan manfaat, semisal untuk menolong orang, memotong hewan, untuk memasak dan lainnya. Namun ketika digunakan untuk hal yang tidak baik pisau dapat digunakan untuk membunuh orang atau tindakan kejahatan lainnya. Begitu pun teknologi, teknologi dapat membantu manusia dengan mempermudah kinerja dan juga dapat merusak tatanan kehidupan tatkala tidak digunakan dengan baik.
Peran teknologi di dalam menunjang pengetahuan dan mempermudah para santri untuk mengembangkan ilmunya tidak diragukan. Namun sampai saat penelitian ini dibuat pesantren Kajen di dalam memfasilitasi teknologi untuk santri masih dapat dikatakan sangat minim[4]. Sehingga banyak usahawan yang membuka jasa rental komputer, warung internet di sekitar pesantren Kajen. Yang lebih menyedihkan para perental dapat mengakses dengan bebas sesuai dengan keinginan yang dikehendaki.
Selain banyaknya jasa rental internet, di desa Kajen juga muncul warung hand phone dan pulsa atau sering disebut counter. Berjalannya dengan waktu keberadaan counter semakin menjamur di sekitar pesantren. Maka tak heran kalau jumlah counter di desa santri ini terbanyak di kawasan Pati Utara, bahkan se-Kabupaten Pati.[5]
B. Perumusan Masalah
Permasalahan yang cukup penting dan patut untuk di teliti adalah seberapa besar pengaruh perkembangan kedua teknologi tersebut (internet dan hand phone) terhadap pola pikir dan perilaku santri Kajen setelah menjamur di tengah kehidupan mereka. Apakah kedua teknologi tersebut memberikan dampak ke arah positif ataukah negatif, baik dari segi kualitas pendidikan, finansial dan moralitas santri. Berapa rotasi keuangan per-bulan di desa kajen setelah merebaknya rental dan berkembangnya kedua teknologi tersebut.
C. Alasan Penelitian
Alasan pemilihan obyek pesantren di desa Kajen adalah karena selama ini, desa kecil yang sarat potensi akan keilmuan dan perekonomian masih belum menjadi perhatian khusus untuk menguak secara lebih mendalam. Lebih-lebih dari Pemerintah setempat yang kurang memperhatikan perkembangan kualitas pesantren Kajen dan Kuantitas perekonomiannya.
Pemerintah masih lepas tanggung jawab sosial akan berubahnya pola pikir maupun perilaku santri seiring menjamurnya teknologi di sekeliling kehidupan santri. Sehingga dampak atau pengaruh dari perkembangan teknologi terhadap santri Kajen masih belum tercover dalam satu bentuk tulisan yang di jadikan bahan koreksi dan perbaikan-perbaikan selanjutnya.
Disamping itu ternyata desa Kajen memiliki potensi keilmuan cukup tinggi yang patut di perhatikan perkembangannya. Apakah di desa ini potensi keilmuannya semakin meningkat, stagnan atau bahkan mengalami kemunduran semenjak berkembangnya sebuah teknologi.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku dan pola pikir santri Kajen sebelum dan setelah berkembangnya teknologi di desa Kajen. Selain itu manfaat penelitian ini adalah untuk menguak lebih jauh tentang potensi perekonomian yang dimiliki oleh desa Kajen sebelum dan setelah berkembang pesatnya teknologi di desa Kajen. Sehingga gambaran yang lebih jelas tentang perkembangan Pesantren Kajen sangat penting untuk memberi saran dan masukan kepada instansi terkait dan masyarakat setempat.
E. Telaah Pustaka
Membahas soal pesantren tidak akan pernah kering untuk dikaji. Keunikan tersendiri yang dimiliki pesantren menjadi hal menarik untuk di teliti. Sehingga banyak ilmuan dan pemikir yang meneliti tentang persoalan yang berkaitan dengan dunia pesantren. Rata-rata para pengkaji pun tak hanya dari kalangan pesantren, namun dari luar pesantren bahkan luar negeri pun banyak yang tertarik untuk meneliti keunikan-keunikan yang dimiliki pesantren. Sehingga muncul ratusan bahkan lebih kajian tentang pesantren, mulai bentuk karya ilmiah (seperti skripsi, tesis dan disertasi) sampai tulisan populer.
Namun karya-karya tentang pesantren yang sudah ada rata-rata masih bersifat umum dalam menggambarkan kehidupan sosial keagamaan dunia pesantren; seperti Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia,[6] “Pondok Pesantren dalam Perjalanan Sejarah”,[7] “Tradisi Pesantren: Suatu Studi tentang Peranan Kyai dalam Memelihara dan Mengembangkan Ideologi Islam Tradisional”,[8] Pergulatan Pesantren, Membangun dari Bawah,[9] Pesantren dan Pembaharuan,[10] Islam Observed,[11] Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara,[12] Kerajaan Islam Nusantara abad XVI- XVII,[13] Gerakan Modern Islam di Indonesia 1990-1994,[14] dan Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII.[15]
Kajian ataupun penelitian secara lebih khusus tentang pesantren dan teknologi dapat dikatakan masih minim. Penelitian yang sering diselenggarakan oleh Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama RI. rata-rata hanya berkaitan potensi yang dimiliki oleh pesantren, baik mulai dari sejarah berdirinya, metode pembelajaran sampai pada perkembangannya. Seperti Strategi Adaptasi Pondok Pesantren[16], Pesantren Argo Bisnis; Pendekatan Formula Area Multi Fungsi dan Model Konsesi Pemberdayaan serta Profil Beberapa Pesantren[17].
Secara jelas penelitian tentang pondok pesantren dan teknologi dapat dikatakan minim, lebih-lebih pesantren yang berada di desa Kajen. Kalau pun ada penelitian yang mengkaji tentang pesantren di Kajen melainkan dari aspek lain, seperti karya disertasi Dr. Zubaedi yang berjudul ”Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren; Kontribusi Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh dalam Perubahan Nilai-nilai Pesantren.”, karya Faiqoh Nyai; Agen Perubahan di Pesantren.
Kedua buku tersebut membahas bagian pembahasan yang berbeda. Buku karya Zubaedi berisi tentang pemikiran Kiai Sahal perihal dialektika perumusan konsep fiqh sosialnya, muatan konsep fiqh sosialnya dan aktualisasi konsep fiqhnya dalam kegiatan pengembangan masyarakat[18]. Sedangkan buku hasil karya Faiqoh di atas membahas tentang peran perempuan pesantren (Nyai) di dalam pemberdayaan perempuan di pesantren dan masyarakat, yang secara khusus mengajukan kasus mengenai peranannya Nyai Nafisah Sahal yang mendirikan Pesantren Perempuan AL-Badi’iyyah[19].
Di samping karya di atas masih banyak karya mengenai pesantren yang dikaji dari berbagai perspektif. Namun dari telaah pustaka yang telah ada sampai tulisan proposal ini dibuat, secara jelas belum ada pembahasan yang meneliti tentang Tantangan Pesantren Kajen di Arus Modernitas, terkhusus berkait dengan Teknologi Internet dan Hand Phone di Pesantren Kajen.
F. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Studi lapangan dilakukan dengan memilih Pesantren desa Kajen dalam tantangan arus Modernitas. Pesantren desa Kajen dipilih karena potensi pesantren desa ini telah terbukti dengan keberadaan jumlah sebanyak 27 pesantren. Sehingga menjadi pertimbangan untuk melakukan penelitian mengenai perkembangan moral, pendidikan, pola pikir santri setelah masuknya teknologi di sekeliling kehidupan santri.
Dengan metode field research, peneliti terjun langsung menggali data dilapangan dengan cara observasi terlibat, wawancara serta melakukan deskripsi di lapangan untuk memelajari masalah-masalah dalam pesantren tentang perubahan nilai atau pandangan, prilaku serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena[20]. Wawancara kepada pengasuh, para pengurus pesantren, para santri, pemuka masyarakat, pengusaha jasa Warnet dan conter serta pihak-pihak lain yang terkait dengan pesantren dimaksudkan untuk mendengar keterangan dari mereka tentang fakta-fakta, kejadian yang mereka alami dan mereka ketahui[21]. Dalam memaknai penelitian ini, peneliti melakukan studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai literatur, dokumen dan karya-karya lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini. Guna lebih menyempurnakan hasilnya maka selama penelitian maupun penulisannya penulis menggunakan metodologi penelitian sosial yang telah ada[22].
Penelitian ini bersifat kualitatif-fenomenologik. Penelitian kualitatif tertarik pada pemberian makna dan mencari esensi yang diperolehnya sendiri dari pengajaran agama di pesantren dan implementasinya di lapangan. Peneliti memahami proses pengembangan santri Kajen yang berhadapan pada tantangan modernitas. Dalam pandangan fenomenologik, penelitian bermakna memahami peristiwa-peristiwa dalam kaitannya dengan orang dalam situasi tertentu[23]. Dengan karakteristik penelitian ini maka arah penelitian secara garis besar bermuara mempertemukan atau mendialogkan antara ajaran keagamaan pesantren dengan pengaruh perkembangan teknologi.
1. Sumber dan Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survey dengan mewawancarai sejumlah responden yang terpilih, yaitu Pengasuh Pesantren, Santri dan Pengusaha Jasa Wartel dan Counter.. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan pada instansi terkait mulai dari semua Pondok Pesantren sampai kantor desa Kajen.
2. Analisis Data
Analisis data dimulai dengan tabulasi data dilanjutkan dengan tabulasi silang dan analisis deskriptif. Demikian pula dengan data sekunder dianalisis secara deskriptif, untuk selanjutnya kedua data ini diinterpretasi dengan bantuan hasil wawancara mendalam dengan para informan kunci[24].
3. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Maret 2009, berlokasi di Desa Kajen, kecamatan Margoyoso, kabupaten Pati.
G. Sistematika Pembahasan
Seluruh isi penelitian disajikan dalam empat bab uraian, dengan pembagian; satu bab pendahuluan, dua bab isi dan analisis dan satu bab terakhir berisi kesimpulan dan rekomendasi. Dua bab isi menguraikan kondisi realitas sosio kultural masyarakat desa, mulai dari sejarah keberadaan desa sampai pada jumlah pondok yang ada di desa Kajen serta metode pendidikan yang dipakai masing-masing pesantren yang ada di pesantren Kajen, dan juga mengkaji tentang tantangan yang harus di hadapi pesantren Kajen guna mempertahankan kultur pesantren atas berkembangnya teknologi di desa Kajen.
Bab pertama, pendahuluan memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan diakhiri dengan sistematika pembahasan. Secara keseluruhan uraian pada bab pertama merupakan penjelasan awal tentang titik tolak atau cara pandang dan pendekatan yang dipakai serta merupakan pertanggungjawaban penulis tentang proses penelitian ini.
Bab kedua, membahas tentang kondisi realitas sosio kultural masyarakat desa Kajen, mulai dari sejarahnya munculnya desa Kajen dan munculnya pondok Pesantren. Menurut peneliti kedua permasalahan tersebut sangat penting untuk ditelusuri lebih jauh, sebab kedua pembahasan itu yaitu keadaan realitas dan sejarah munculnya keberadaan desa dan pondok sangat mempengaruhi kondisi perkembangan selanjutnya.
Bab ketiga, mendeskripsikan tantangan yang harus di hadapi pesantren Kajen guna mempertahankan kultur pesantren atas berkembangnya teknologi dewasa ini. Pembahasan pada uraian ini mengkaji secara mendalam perkembangan pesantren kajen saat ini dengan pendekatan analisis fenomena dan data.
Uraian dalam bab tiga ini diharapkan memberikan dasar-dasar argumentasi bahwa perubahan-perubahan baik prilaku, pola pikir dan keilmuan masih ada kaitannya dengan perkembangan dunia luar pesantren yang bersifat dinamis.
Bab kelima, merupakan bab terakhir terdiri dari kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan memuat sejumlah jawaban terhadap rumusan masalah dari semua temuan penelitian dan mengklarifikasi kebenaran serta kritik yang dirasa perlu untuk merevitalisasi peranan teknologi terhadap perubahan pada pesantren kajen di masa sekarang dan mendatang.
[1] Kajen adalah salah satu desa di kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah. Letak geografis desa ini berada 18 KM di sebelah utara kota Pati.
[2] Jumlah santri di desa Kajen ada 4500 orang dari 27 Pesantren, di lihat dari luas desa Kajen secara kuantitas itu merupakan prestasi yang cukup membanggakan.
[3] Luas desa Kajen hanya sekitar 63 hektar. Hampir seluruh tanah di situ berupa pekarangan. Tidak ada sawah sepetak pun di desa itu. Luas tegalan seluruhnya hanya 4 hektar yang terselip di antara rumah penduduk. Karena tidak ada lahan pertanian rata-rata masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang.
[4] Kalau pun ada itu hanya satu yaitu Pesantren Maslakul Huda yang di asuh oleh KH. MA. Sahal Mahfudh.
[5] Jumlah rental computer di desa Kajen terdapat 7 tempat, warnet ada 6 tempat dan Jumlah counter yang berada di sekitar pesantren Kajen, khususnya di Jalan Raya Ronggo Kusumo, berjumlah sekitar 110 counter.
[6] Marwan Saridjo dkk. (ed.), Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia (Jakarta: Penerbit Dharma Bhakti, 1982).
[7] Ahmad Janan Asifudin, “Pondok Pesantren dalam Perjalanan Sejarah”, al-Jami’ah, 1994.
[8] Zamakhsyari Dhofier, “Tradisi Pesantren: Suatu Studi tentang Peranan Kyai dalam Memelihara dan Mengembangkan Ideologi Islam Tradisional”, dalam Prisma, 1981.
[9] M. Dawam Rahardjo (ed.), Pergulatan Pesantren, Membangun dari Bawah (Jakarta: P3M, 1985).
[10] M. Dawam Rahardjo (ed.), Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta: LP3ES, 1974).
[11] Clifford Geertz, Islam Observed (New Hoaven and London: Yale University Press, 1968).
[12] Abdullah dan Sharon Siddique (ed.), Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, cet. 1 (Jakarta: LP3ES, 1989).
[13] M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara abad XVI-XVII, cet. 1 (Yogyakarta: Penerbit Kurnia Kalam Sejahtera, 1415/1995).
[14] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1994, cet. 8 (Jakarta: LP3ES, 1996).
[15] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, cet. 1 (Bandung: Mizan, 1415/1994).
[16] Ahmad Susilo, Strategi Adaptasi Pondok Pesantren, (Jakarta: Kucica, 2003)
[17] Departemen Agama RI, Pesantren Argo Bisnis; Pendekatan Formula Area Multi Fungsi dan Model Konsesi Pemberdayaan serta Profil Beberapa Pesantren, (Jakarta: Direktoral Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2004)
[18] Zubaedi, Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren; Kontribusi Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfud dalam Perubahan Nilai-nilai Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) hlm. 6
[19] Faiqoh, Nyai Agen Perubahan di Pesantren, (Jakarta: Kucica, 2003) hlm. 23
[20] Robert Bogdan & Stevan J Taylor, Introduction to Qualitative Methods Research, A Phenomenological Approach to Sosial Sciences (New York: John Willey & Son, 1975), hlm. 33
[21] L. Adam, Methods and Forms of Investigation and Recording of Native Costumary Law in The Netherlands East Indies before the War (Oxford: Oxford University Press, 1952), hlm 5.
[22] Atho Mudzar, Pendekatan Studi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 7.
[23] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 1995), hlm. 23.
[24] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian…hlm. 25.