celotehanku

Wahai…jiwa-jiwa yang kosong…
hidupkanlah intuisimu….
Bangunlah dzauq dan wa’yumu…
Rancanglah tujuan hidupmu…
Tunjukkan pada malaikat-malaikat bahwa dirimu mampu…
Dirimu bukan cuman pecundang yang serakah…
Ingat..dirimu adalah paling mulia…
“walaqod karomna bani adam”
itulah kata tuhan….
***
Aku adalah engkau…
tapi engkau bukan aku…
Kita adalah semua…
tapi semua bukanlah kita…
Manusia adalah ciptaannya…
tapi ciptaannya bukanlah manusia…
Tau adalah pengetahuan…
tapi pengetahuan bukanlah tau,,,,
iman adalah islam…
tapi islam bukanlah iman….
***
Wahai manusia,
engkau harus selalu ingat..
bahwa engkau adalah kekosongan…
dan kelak akan kembali kosong…
Janganlah engkau menjadi angkuh atas potensimu…
Hilangkan dan buanglah ego-amarah mu…
Agar kelak engkau dapat mengintegrasikan hati, diri, jiwa dan akalmu…
***
Dari manakah keberadaan kita…
kapan kita diciptakan?
terbuat dari apakah kita..
kapan tuhan meniupkan ruh kepada kita?
Apa yang akan terjadi dengan esok hari…
Siapa kita…..???
Huh..ternyata kita bukan siapa-siapa,
kita hanya sebuah ilusi yang tidak bisa apa-apa,
sehingga membutuhkan apa-apa….
Astagfirullah…..
Kajen, Ahad 28 juni 2009
Terkadang kita kafir….
Tapi tak mau mengakuinya…
Terkadang kita munafik…
Tapi terus membungkusnya….
Akankah semua itu kita pelihara?
Ataukah engkau kan dipelihara mereka…
Terkadang kita pelit,,,
Tapi masih saja berkelit….
Kajen, Senin 29 Juni 2009

Ya Allah…
Sungguh, aku merasa sepi disini…
Hanya Engkau lah yang Maha Mengetahui diriku…
Tuhan…
Apa ini wujud tirakat yang harus kulalui dalam mencari ilmu-Mu?
***
Ya Allah…
Berilah ketengangan jiwa…
Dalam menghadapi sgala cobaan..
***
Tuhan…
Makasih…
Engkau memberi kepercayaan padaku..
Tuk hidup di dunia ini..
***
Tuhan..
Hamba disini merasakan lapar…
Tapi bagaimana kondisi saudara-saudaraku yang kelaparan dipenjuru dunia?
Berilah kami senantiasa Rahman-RahimMu
***
Tuhan…
Sadarkan kami..
Tatkala telah jauh dariMu..
Ampunilah semua ciptaanMu tatkala mendurhakaiMu
Jika kami lalai ingatkanlah..
Maafkan jika kami sibuk tuk mengurusi urusan yang tak penting..
Kajen, Selasa 30 Juni 2009

Apa yang harus kau lakukan dan pikirkan…
Apa yang kau lakukan jika melihat pengemis…?
Apa yang kau lakukan jika melihat gelandangan…?
Apa yang kau lakukan jika melihat orang kelaparan…?
Apa yang kau lakukan jika melihat kemungkaran…?
Apa yang kau pikirkan jika melihat kemiskinan melanda negara…?
Apa yang kau pikirkan jika melihat kemaksiatan merajalela?
Apa yang kau pikirkan jika melihat anak tak sekolah…?
Atau anda tak pernah melakukan…?
Atau anda tak pernah memikirkan…?
Kajen, Rabu 01 Juli 2009

Komentar bertahan »

Dari Mana Aku Mulai Menulis?

Assalamu’alaikum…..
Selamat beraktivitas kembali anggota forum ”Oase Creative Writing”… Gimana kabarnya? Baek-baek aja kan…semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan oleh Dzat Yang Maha Kuasa dalam menjalani aktivitas. Amien.
Pripun…masih semangat untuk berkarya kah anda semua setelah disibukkan dengan kedatangan Presiden kita. Pastinya kemaren anda semua mempunyai banyak unek-unek yang ingin ditorehkan dalam tulisan. Mungkin cuman pengen berbagi keluh kesah sampai pada taraf ingin untuk menuliskannya dalam bentuk karya ilmiah atau pun berita. Buruan…munculkanlah gagasan ataupun pemikiran anda dalam bentuk tulisan, sebelum semuanya diserang penyakit kita yaitu lupa.
Atau bingung mau menulis dari mana gagasan tersebut? Nyantai aja teman…ni ada ”rahasia terbesar” untuk penulis pertama seperti kami tatkala bingung mau mulai nulis dari mana. Kami katakan rahasia terbesar karena pertanyaan di atas adalah pertanyaan terbesar bagi penulis pemula dan inilah cara yang harus ditempuh bagi penulis saat menginginkan menulis dengan mudah. Apa itu? Silahkan baca materi pertemuan ke tiga, temukanlah rahasia itu. Salam sukses buat anda!
Kapan saat yang tepat untuk menulis?
Pertanyaan seperti itu seringkali muncul dengan sendirinya. Kebingungan mencari waktu untuk menulis merupakan hal yang wajar dan sering di alami seorang penulis.
Alkisah, ada seorang sahabat A berkata kepada penulis terkenal bernama B. ”Saya ingin menjadi penulis hebat seperti anda, karena itu saya akan menulis. Saya akan membuat tulisan yang lebih baik dari pada anda nanti. Saya akan membuat tulisan yang menggemparkan dunia penulisan di jagad semesta ini. Saya akan menjadi penulis ngetop yang produktif melampaui diri anda.”
Sepuluh tahun kemudian si B bertemu dengan A. Dan dia bertanya kepada A, ”halo A….sudahkah anda menjadi penulis yang hebat kawan. Apa cita-citamu untuk menjadi penulis produktif telah tercapai. Berapa ratus karya yang anda telurkan dari buah pena anda”. Dengan kebingungan Si A menjawab, saya samasekali belum membuat tulisan satu pun! Tapi santai saja, citacita saya belum luntur kok…semangat saya masih seperti dulu, saya masih mempunyai tekad untuk menjadi penulis lebih hebat di banding anda. Saya yakin mempunyai kemampuan yang lebih daripada diri anda. Tunggu saja hasilnya ya!
Dua puluh tahun kemudian Si A bertemu dengan Penulis B. Si A masih saja menjadi ”Penulis wanna be”, kenapa? Karena ia sama sekali tak menghasilkan satu pun! Huh…kata falsafah jawa orang kaya A itu termasuk kategori ”Besar Pasak daripada Tiang”. Ada kemauan namun tak mengukur kekuatannya serta tanpa didasari akan pentingnya berusaha dalam mennggapai cita-cita.
Apakah anda termasuk bagian dari A? Semoga saja tidak kawan. Barangkali anda seringkali menjumpai penulis seperti A. Mempunyai cita-cita besar namun hanya berhenti dalam cita-cita saja tanpa mau berusaha mewujudkannya. Dengan kata lain mereka selalu menunda-nunda untuk MULAI MENULIS.
Kalau ditanya mengapa mereka menunda-nunda aktivitas menulis, biasanya mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan standar sebagaimana berikut;

• Saya sangat sibuk, aktivitas saya banyak, kerjaan kuliah numpuk nih…. belum lagi urusan organisasi saya masih banyak sekali yang belum selesai.
• Nanti aja deh…kala sudah lulus kuliah…
• Ilmu saya masih sedikit, nanti saja ya…kalau sudah menjadi ahli biar lebih mantap dan fasih kalau membahasnya dan saya akan mulai menulis gagasan maupun ide saya.
• Saya masih bingung dan tidak tau, bagaimana caranya untuk mulai menulis dan dari mana saya harus memulainya.

Tanpa merasa bersalah mereka mengatakan hal di atas. Dengan dalih di atas seakan mereka berada dalam posisi benar untuk menunda dan tidak mulai menulis. Pertanyaannya adalah apakah mereka berada dalam kebenaran? Apakah alasan mereka cukup kuat untuk menunda tidak mulai menulis? Mari kita kaji permasalahan ini.
1. Saya sangat sibuk, aktivitas saya banyak, kerjaan kuliah numpuk nih….
Bicara soal kesibukan sebenarnya anda tidak sendirian kawan. Qurays Shihab sangat sibuk. Tantowi Yahya juga sibuk. Habibur Rahman sama juga. Kiai Sahal apalagi.
Tapi kenapa mereka bisa sukses, kenapa mereka mampu sukses, melakukan pekerjaannya dan menyelesaikan permasalahan dengan baik, padahal waktu mereka sama dengan waktu yang kita lalui. Waktu kita sama 24 Jam tak ada bedanya, tapi kenapa kita tak mampu untuk seperti mereka?
Sebenarnya kucinya pada dua hal sebagaimana berikut:
1. Manajemen Waktu.
2. Motivasi.
Salah satu kunci kesuksesan mereka adalah pengelolaan waktu dengan baik. Dan hal terpenting bagi kita sekarang adalah bagaimana kita agar mampu menggunakan waktu dengan baik. Bagaimana agar waktu sesingkat itu dapat menghadapi berbagai permasalahan dengan efektif dan efisien.
Ingat! Orang sukses bukanlah orang yang mempunyai banyak waktu luang, melainkan orang yang mampu memanfaatkan waktu luangnya. Disiplin, menjaga komitmen, konsisten dan berani puasa adalah kunci kesuksesan hidup.
2. Nanti aja deh…kala sudah lulus kuliah…
Ada begitu banyak orang yang menggunakan alasan seperti ini untuk menunda pekerjaan tertentu. Andai ditanya apa sebabnya, ia akan menjawab ”nanti dulu saya belum siap, saya masih sibuk sekarang ini, tugas kuliah sangat banyak, belum lagi ini mendekati tes semester. Percaya deh, kagak ada waktu sama sekali untuk menulis. Jadi tunggu aja ya setamat kuliah nanti, di saat kondisi hidup saya jauh lebih stabil dibanding sekarang…”
Wah…wah…wahai temans…alasan nomor dua ini sampai kapanpun akan senantiasa muncul. Sebab penulis mempunyai keyakinan bahwa kita selamanya tak akan terlepas dari problematika kehidupan, tak akan ada waktu luang untuk kita selama menjalani kehidupan ini. Hanya orang tak waraslah yang menganggap bahwa esok hari masih ada waktu untuk mengerjakan ini, sehingga masih wajar bila aku menundanya. Nyantai aja bung!
Hufh….kalau anda termasuk orang yang mempunyai watak demikian, pasti anda akan mengeluarkan alasan-alasan dan mengingkari alasan terdahulu.
Bila sudah tamat kuliah, dia akan mengatakan ”nanti aja deh…kalau sudah bekerja.”
Bila sudah bekerja, dia akan berkata ”nanti aja deh…kalau sudah menikah.”
Bila sudah menikah, dia akan berkata ”nanti aja deh…kalau sudah mempunyai anak.”
Bila sudah punya anak, dia akan berkata ”nanti aja deh…kalau anak-anak saya sudah besar”
Bila anaknya sudah besar, dia akan berkata ”nanti aja deh…kalau anak saya sudah menikah semua”
Bila anaknya sudah menikah semua, dia akan berkata ”nanti aja deh…kalau saya sudah punya cucu”
Bila sudah punya cucu, dia akan berkata ”nanti aja deh…di akhirat…”
3. Ilmu saya masih sedikit, nanti saja ya…kalau sudah menjadi ahli.
Untuk hal ini saya perlu mengutip slogan yang selalu di dengung-dengungkan oleh Eko June yang cukup dalam maknanya:
”Anda tak perlu hebat untuk memulai, tapi anda harus memulai untuk menjadi hebat.”
Berikut adalah kutipan lengkapnya: orang-orang sukses dan hebat adalah orang-orang yang memulai. Tanpa menunggu agak hebat, sedikit hebat, cenderung hebat atau nyerempet hebat. Tanpa menunggu kondisi ideal digenggaman baru action. No.
Kenapa saya bilang sangat dalem artinya…? karena jika kita ubah sedikit saja redaksinya maka akan sesuai dengan kondisi yang kita inginkan dan akan kita lakukan.
Anda tak perlu sehebat Helmi Yahya untuk mulai bicaram, tapi anda harus memulai bicara di depan umum agar bisa bicara seberani Helmi Yahya.
Anda tak perlu sepintar Kiai Sahal untuk mulai menulis, tapi anda harus mulai menulis agar sepintar Kiai Sahal dalam menulis.
Dan masih banyak lagi.
Ingat teman, justru bila anda menunggu hingga mempunyai keahlian dan pengetahuan yang banyak untuk mulai menulis, Anda tak akan pernah menjadi ahli. Keahlian dan pengetahuan akan anda dapatkan disaat anda mulai PRAKTEK MENULIS. Semakin produktif dalam menulis, keahlian dan pengetahuan anda akan semakin tertata dengan baik.
4. Dari Mana Aku Mulai Menulis?
Sebenarnya saya ingin sekali untuk menulis, banyak sekali ide yang numpuk dalam pikiran saya. Namun saya bingung, apa yang harus aku tulis, sama sekali aku tak mempunyai ide, terus harus memulainya dari mana. Rasanya sangat sulit untuk menuangkan ide dalam tulisan. Wa ba’du semua ide saya mandeg dan terkapar di tengah jalan. Ups…itulah pertanyaan yang sering di ajukan oleh penulis pemula, yaitu seputar tentang bagaimana agar ide tetap mengalir dan tak tersendat atau terkapar di tengah jalan.
Apakah anda juga mengalaminya? Saya pikir semua penulis pernah mengalami hal yang sama seperti di atas. Rata-rata seorang penulis pemula seperti saya seringkali mengalami kebingungan dalam merangkai ide dalam bentuk tulisan. Bagaimana agar kita lancar menulis dan tak mengalami kebuntuan dalam menorehkan ide kita.
Taukah anda bagaimana menghadapi berbagai macam masalah di atas. Sebenarnya kunci atau rahasia dari semua itu adalah terletak pada otak kiri dan kanan kita. Benarkah demikian? Barangkali anda telah banyak mendengar dan sebelumnya sudah tau bahwa otak kanan adalah otak yang penuh kreativitas, suka spontanitas, kebebasan yang sebebas-bebasnya serta sama sekali tak perduli dengan aturan main apapun. Sangat berbeda dengan otak kiri; otak satu ini sangat suka menganalisis, aktivitas berfikir dan mempertimbangkan banyak hal.
Terus apa kaitannya dengan permasalahan di atas? Terang saja sangat erat sekali pengaruhnya dengan aktivitas kreasi tulis menulis kita. Dalam tulis menulis berarti anda harus menggunakan otak kanan terlebih dahulu tatkala anda menginginkan tulisan anda tak mandeg atau mentok di tengah jalan. Sebisa mungkin biarkanlah otak kanan bekerja saat anda memulai menulis ide dan singkirkan peran otak kiri.
Biarkanlah ide-ide kita keluar terlebih dahulu serta usahakan tidak tersendat dengan aturan main tulisan efektif. Bebaskanlah otak kanan memainkan perannya dalam menggali ide-ide, sehingga semua gagasan dapat keluar dengan sendirinya. Ingat singkirkan peran otak kiri, sebab tatkala ia ikut nimbrung dalam aktivitas tulis-menulis anda ia akan membuat anda segera untuk menganalisis, membuat anda semakin banyak berfikir dan banyak pertimbangan.
Apalagi saat otak kiri dipenuhi dengan teori dan kiat penulisan, hal tersebut akan selalu menghantui seorang penulis dalam menuangkan ide gagasannya, walhasil setiap kali menulis teori-teori tersebut menghantui mereka. Selain itu timbullah pertanyaan dalam benak pikirannya. Tulisan saya sama ngga’ dengan teori A, sudah memenuhi kaedah penulisan efektif ngga’? layak tidak kalau nanti di baca banyak orang, nanti kalau jelek gimana.
Hem…ketauhilah temanku, bila anda mulai menulis seperti itu, maka tunggulah hasilnya, sampai kapanpun anda tak akan memulai untuk menulis dan anda tak akan berhasil membuat tulisan satu pun! Anda harus mengoptimalkan otak kanan anda, dan konsentrasi bahwa anda harus menyelesaikan tulisan anda terlebih dahulu. Permasalahan kualitasnya urusan nanti. Biarkanlah itu menjadi urusan otak kiri anda.
Nah…setelah tulisan selesai dan semua gagasan ataupun ide telah tersampaikan semua dalam goresan pena, istirahatkanlah otak kanan anda. Sekarang beralihlah ke otak kiri anda. optimalkanlah kerja otak kiri anda. Ingatlah seabreg teori yang telah anda ketahui. Mulai teknik menulis efektif, tata cara menulis yang benar dan lain-lain.
Mulailah berfikir:
• O…paragraf ini terlihat kurang pas dan sepertinya agak aneh deh.
• Em…kata-kata ataupun kalimat ini kok tak sesuai dengan EYD sih….
• Kelihatanyya tulisan saya kok masih kurang landasan teori yang menguatkannya ya…
• Ternyata tulisan saya masih jauh dari tata cara penulisan efektif yang baru kemarin saya baca…
• Dan lain-lain seterusnya.
Nah…dalam hal ini anda harus menggunakan otak kiri secara optimal, biarkanlah otak kiri anda bekerja untuk merevisi, mengedit dan menganalisis tulisan anda. Hiasilah dan permaklah tulisan anda sebagus mungkin.
Pantangan Terbesar
Perlu kita ingat sekali lagi, di dalam menulis janganlah menggunakan otak kiri kita. Pergunakanlah otak kanan untuk menyelesaikan gagasan ide kita kedalam tulisan. Percayalah bahwa otak kanan akan mampu menyelesaikannya dengan kreativnya dan sebebas mungkin, sebab ia tak menghiraukan dan berkiblat bentuk teori manapun.
Jangan berfikir jele-bagusnya tulisan anda sebelum ia benar-benar selesai dengan sempurna. Teruslah menulis sesuai dengan apa yang anda kehendaki. Setelah sampai benar-benar selesai. Barulah anda mengoprasionakan otak kiri anda. Janganah terlalu tergesa-gesa dalam menggunakan otak kiri anda. Sebab sedikitpun otak kiri anda mencampuri atau ikut nimbrung di awal proses tulisan dibuat, maka percayaah hal tersebut akan menyebabkan tersendatnya tulisan anda serta menjadikan aktivitas menulis anda mandeg di tengah jalan, dan akan membuat anda semakin bingung dalam menuliskan gagasan anda.
Waba’du, meski anda memiliki banyak teori dan tata cara penulisan, mohon agar menggunakannya dengan tepat. Terapkan ia dalam otak kiri anda, bukan untuk otak kanan. Setiap menulis guanakanlah otak kanan terlebih dahulu. Inilah rahasia kepenulisan yang harus kita ketahui dan praktekkan semua.
Jadi kita kembali kepada pertanyaan awal kita, kapan kita mulai menulis? Jawabannya adalah MULAI SAAT INI JUGA!
Masih penasaran? ikuti forum ini setiap hari Kamis pukul 11.45 dan Jum’at pukul 07.00 WIB.
Semoga terinspirasi, semoga bermanfaat dan salam sukses untuk anda. Selamat mencoba! (Taufiq, alamat blog : toplex84.wordpress.com)
Wassalamu’alaikum
Oase Creative Writing

Komentar (1) »

Penyakit Internal Penulis Pemula

Assalamu`alaikum…
Masih semangatkah anda semua wahai jiwa penulis. Sudah tertanamkah kepercayaan untuk menjadi penulis. Terimakasih anda semua masih bergabung di Forum “Oase Creative writing”, salam sukses untuk anda. Dalam pertemuan kali ini mari kita diskusikan tentang penyakit yang senantiasa mengganggu penulis pemula…

Penyakit Internal Penulis Pemula
Salah satu tanda era globalisasi adalah berkembang dengan pesatnya teknologi mutakhir. Implikasinya informasi semakin mudah untuk kita akses. Dunia seakan dapat dilipat layaknya sebuah kertas. Batas teritorial bangsa sudah tak menjadi halangan. Hidup antar negara bahkan benua sudah tak ada bedanya dengan hidup di satu desa.
Saat ini, siapa yang menguasai informasi dialah yang berkuasa. Sudah tak zamannya lagi hanya orang kaya yang berkuasa, tapi orang kaya-lah yang akan tunduk pada orang yang menguasai wawasan keilmuan. Harta bukanlah yang utama, namun pengetahuan yang paling utama. Ingat kawan, dinamika kehidupan menuntut seseorang untuk memiliki daya saing tinggi. Kalau tak cepat berubah, maka bersiaplah untuk digilas perubahan. Mari kita wujudkan kemampuan untuk mengenalkan inilah kelebihan yang saya miliki. Hambatan yang ada segera mungkin harus kita identifikasi dan kita atasi. Kalau anda seorang penulis, segeralah menulis gagasan yang ada di benak anda.
Saya adalah penulis pemula dalam menekuni dunia tulis menulis semenjak ikrarku beberapa minggu lalu. Setelah saya mengidentifikasi setidaknya ada Tiga Kendala yang sering ditemukan pada penulis pemula seperti saya;
1. Takut Ditolak
Takut ditolak atau dengan kata lain takut gagal merupakan hal yang wajar bagi penulis pemula. Dimana setelah menghasilkan karya tulisan, terus terpikirkan dalam benak bagaimana nantinya kalau tulisan saya ditolak alias tak diterbitkan di media sasaran. Bagaimana nantinya kalau tulisan saya dikembalikan.
Jika saya berpikiran seperti itu lebih baik saya kubur dalam-dalam impian saya untuk menjadi penulis. Dan selamanya saya tak akan mempunyai impian kalau saya takut pada kegagalan. Aku harus ingat bahwa sudah menjadi keniscayaan bahwa ada dua kemungkinan yang selalu mengitari dalam perjuangan, apapun bentuknya; yaitu berhasil atau gagal. Namun tragisnya banyak dari kita yang lalai akan kodrat alam itu, banyak dari kita siap untuk berhasil tapi hanya sedikit yang siap gagal.
Sebelum menemukan listrik, Thomas Alfa Edison telah bereksperimen sebanyak 999 kali, dan semuanya gagal. Jika eksperimen ke-1000 kali ia mundur, alias menyerah maka kemungkinan besar kita tak akan menikmati kecanggihan informasi dan teknologi. Hidup kita akan menjadi gelap gulita pada malam hari, sepi karena tak ada hiburan.
Harus di ketahui bahwa tak ada penulis yang tiba-tiba terkenal. Semuanya pasti pernah mengalami fase kegagalan sebelum menggapai keberhasilan. Pribahasa klise mengatakan man jadda wajada, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, so kagak usah takut kawan. Yakinlah pada kemampuanmu sendiri, saatnya tunjukkan gagasan briliant anda kepada khalayak ramai.
2. Minder
“Saya mempunyai banyak naskah tulisan, namun saya tak berani untuk mengirimkannya kepada media. Tulisan saya jelek, tak layak untuk menjadi konsumsi umum.”
Sebagai penulis pemula rasa minder terkadang menjadi alasan untuk menunda kita berkarya. Minder menjadi penyakit kronis yang selalu menyerang penulis pemula. Sehingga mengakibatkan bekunya sebuah ide. Jika anda termasuk memiliki penyakit satu ini segera berantaslah dengan kepercayaan diri anda. Anda harus yakin bahwa pemkiran atau pun gagasan anda layak untuk di jadikan masukan, pertimbangan dan jalan keluar sebuah masalah.
Masihkah rasa minder menyelimuti anda. Kalau ya, segera buanglah rasa minder itu. Saat ini anda harus memilih, membuang atau memelihara minder tersebut. Jika anda memilih untuk membuang rasa minder itu, yakni memberanikan diri untuk mengirimkan karya anda, maka akan ada banyak kemungkinan bagi anda. Ada kemungkinan baik dan kemungkinan buruk. Namun tatkala anda memelihara minder itu, yakni dengan menyimpan rapat-rapat karya anda maka hanya ada satu kemungkinan yaitu KEBURUKAN. Selamanya anda tak akan menemukan jalan kesuksesan, karya anda akan mati dan mandeg di alam diri anda. Khalayak tak akan mengetahui ide-ide briliant anda. Ingatlah bahwa rasa miinder akan membawa diri kita menjadi pengecut. Diam dalam kemunafikan harus kita enyahkan dari diri kita.
Katakanlah bahwa saya ingin menjadi penulis sukses. Mari kita buang jauh-jauh rasa minder itu. Cobalah tunjukkan karya anda kepada temen-temen anda, orang yang berada di sekeliling anda atau bahkan kalau anda sudah berani, koreksikanlah kepada penulis yang sudah berpengalaman. Tunggulah reaksi mereka.
Jika naskah tulisan saya dikatakan jelek, maka saya-lah pemenangnya karena perasaan saya tak salah. Jika tulisan saya memang benar-benar jelek, maka ini merupakan awal yang bagus untuk belajar menulis. Sebab saya mampu belajar dari kesalahan, barangkali saya dapat menanyakan kepada teman saya atau penulis yang sudah getol dalam menuangkan gagasannya, dimanakah letak kesalahan tulisan saya. Bagian mana yang harus aku benahi. Itulah yang seharusnya aku tempuh. Sebagai penulis awal aku tak boleh kecewa tatkala tulisanku jelek. Kata pepatah “kegagalan adalah guru yang terbaik”.
Lantas jika orang mengatakan tulisan saya bagus, maka perasaan saya yang kalah. Namun sebagai penulis akulah yang menang. Jika karya saya di puji atau di katakan sebagai karya yang luar biasa, maka itulah modal awal saya untuk mengikis semua rasa minder saya. Perasaan minder dengan sendirinya akan hilang kalau dilebur dengan pujian. Pujian merupakan obat mujarab untuk membunuh minder dalam diri sendiri. Yang terpenting aku mencoba untu tak terlena dengan pujian, karena meskipun itu adalah obat tapi harus kita ingat bahwa dosis tinggi sangat berbahaya untuk pribadi.
Jadi, sebenarnya tak ada alasan untuk minder, bukan? Naskah saya jelek ataupun bagus toh masih memiliki kepuasan sendiri bagi diri kita untuk selalu dapat berbagi inspirasi dengan yang lain. Meskipun naskah jelek, tapi tetap memiliki horizon yang hidup kan…. Aku harus ingat, bahwa tak selamanya saya berada dalam jurang ketidak mampuan, suatu saat pasti saya akan berada dalam kesuksesan tatkala saya betul-betul tak mengenal lelah dalam berusaha. Yupz…berusaha!
Saat ini yang harus saya hapus dalam diri saya adalah perasaan minder dalam melakukan eksperimen ataupun pembelajaran apapun. Ayo sudahlah! Jangan katakan “saya minder dan tulisan saya sangat jelek, nanti kalau di tertawain banyak orang gimana?” Lima tahun lagi, kalau saya yakin dengan kemampuan yang kumiliki, mungkin akan dapat mengalahkan Aghata Cristie dan Stephen King. Apa lagi yang harus ku tunggu?

3. Membesar-besarkan masalah
“Sebenarnya, saya ingin sekali menulis, tapi:
• Tempat saya sangat bising; dekat dengan jalan raya. Banyak sekali penghuninya. Setiap hari ramai sekali. Tak ada tempat yang tenang untuk menulis.
• Saya tak punya komputer.
• Tugas kuliah saya numpuk.
• Lagi pula saya orangnya sangat sibuk, waktu saya hanya sedikit sekali. Saya seorang aktivis, yang harus pergi dari satu forum ke forum lain. Setiba di rumah, sudah malam sekali dan saya harus istirahat untuk persiapan mengikuti acara esok. Pokoknya hanya sedikit waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal di luar agenda acara.
Duh, betapa banyak rintangan yang harus aku hadapi. Ya, aku memang punya alasan untuk mengurungkan niat menjadi penulis. Tapi benarkah itu alasan yang kuat? Ingatlah teman, Gola Gong adalah seorang penulis yang bertangan satu. Namun itu sama sekali tak menjadikannya untuk hengkang dari dunia tulis menulis. Dia tetap berusaha sampai menjadi penulis yang dikenal oleh banyak orang. Qurays Shihab adalah tokoh super sibuk, namun beliau tetap menghasilkan karya yang berjilid-jilid. Pramodya Ananta Toer adalah seorang penulis yang menulis karya-karyanya di dalam penjara. Anda mungkin dapat membayangkan dalam kondisi seperti apa dia menulis.
Ayolah, wahai jiwa-jiwa penulis! Di forum awal telah di jelaskan bahwa “Kendala sebesar apapun tak akan ada pengaruhnya tatkala di dada kita tertanam motivasi yang sangat kuat, serta ada keyakinan pasti kita dapat melakukannya”. Memang yang di atas adalah kendala bagi kita semua. Jangan dikira hanya anda yang mengalaminya. John Grisham dan Putu Wijaya pun mengalami juga kok. Jadi, mari kita wujudkan untuk menjadi penulis sukses.
Teman, kesuksesan selamanya tak akan menghampiri seorang pemalas. Kalau mau sukses ya harus rajin, itulah kata orang bijak. Malas-lah yang selalu menjadikan kita untuk tak memunculkan karya kita, malas-lah yang selalu memunculkan kata “Lagi nggak ada Mod”….untuk itu buanglah kemalasan dalam diri kita ini. Ingat Firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11…..! (taufiq) Wassalamu`alaikum….

Komentar bertahan »

Mau pinter nulis? Latihan donk….

Oleh: Taufiqur Rohman

“No one can guarantee your success, except yourself.” (Anonim)

Siapa yang ngga’ kepengen bisa nulis? ngeluarin ide-ide yang briliant dan dibaca banyak orang, lebih oke lagi dikenal banyak orang dan tidak ketinggalan pula bisa dapet penghasilan melalui honor tulisan kita. Wah… mungkin hanya orang kurang waras kali….yang ngga’ pengen kayak gitu. Dah terkenal, banyak duit lagi.
Banyak dari kita yang ingin sekali pinter nulis. Ingin mengeluarkan gagasan yang kreatif dan tidak membosankan. Tapi keinginan kayak gitu seringkali tak tersampaikan, hanya gara-gara hal sepele. Punya bakat seakan harus modal awal untuk menjadi seorang penulis. Padahal dunia tulis menulis tidak mengenal bakat atau kedudukan. Mau anak raja, anak presiden, anak menteri, anak petani bahkan pemulung, semua sama ngga’ ngaruh.
Belum tentu anak orang terpandang bisa nulis begitu sebaliknya. Meski anak petani atau kelas sosial terendah banyak juga yang menjadi penulis sukses. Dunia tulis menulis juga tak melihat tingginya intelektual seseorang. Belum tentu otak briliant tulisan pasti berkualitas dan enak dibaca. Banyak juga para sarjana bahkan doktor sekali pun yang tulisannya masih belum mempunyai greget alias kurang mengalir alur tulisannya. Juga tak sedikit orang biasa yang samasekali tak mempunyai latar belakang dunia akademik namun melahirkan banyak tulisan kreatif.
Dunia tulis menulis hanya akrab dengan orang yang selalu berusaha mencoba untuk menulis yang tak kenal lelah. Istiqomah atau bahasa kerennya kontinuitas, konsisten sangat diperlukan untuk menjadi penulis. Bahkan menjadi modal awal untuk meraih kesuksesan dalam menulis. Sehingga menulis pun harus beralih fungsi, yang awal mula sebatas obat kejenuhan menjadi suatu keharusan. Menulis dialihkan menjadi dzikir yang harus dilakukan terus-menerus tanpa mengenal lelah untuk menulis. Menulis harus menjadi syarat pokok dalam kebutuhan sehari-hari.
Menulis ibarat mengendarai sepeda, untuk dapat bersepeda berangan-angan saja tak cukup tapi harus mempraktekkan langsung. Begitu dengan menulis, untuk dapat menjadi piawai dalam menulis dan getol menelurkan gagasan diperlukan ketelatenan seorang penulis. Semangat yang tinggi nan tak mengenal lelah dalam berlatih sangat menentukan keberhasilan penulis.
Menulis bisa dijadikan sebagai media dakwah yang sangat efektif dan efesien. Tanpa pergi ketempat satu dan ketempat yang lain layaknya seorang da’i yang pindah satu panggung ke panggung yang lain. Kita dapat duduk manis ditempat dengan menghasilkan sebuah tulisan berkualitas yang dapat di konsumsi umat. Pertanyaannya adalah, bagaimana menghasilkan tulisan yang berkualitas. Dan apa saja kunci suksesnya seorang penulis.
Ikrarkan Diri
Anda mungkin punya bakat nulis yang luar biasa. Anda mungkin mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang penulis besar seperti Al-ghazali, As-Syafi’i, Yusuf Qardhawi, Wahbah Zuhaili dan lain seterusnya. Namun sudahkah bakat atau kemauan dan cita-cita untuk menjadi penulis mengakar dalam diri kita. Itulah persoalan pertama yang harus dihadapi terlebih dahulu. Dan saya percaya bahwa kendala terbesar justru datang dari dalam diri kita sendiri. Karena itu kita sendirilah yang paling tepat untuk mengatasinya.
Abraham Maslaw mengatakan bahwa puncak tertinggi kebahagiaan seseorang adalah kemampuan mengaktualisasikan diri. Ada macam-macam bentuk aktualisasi diri; menyanyi, menjadi orator, reporter, dan ada juga yang melalui dengan aktivitas tulis menulis. Yang kesemuanya merupakan bagian dari pengaktualisasian diri.
Aktualisasi seseorang antara satu dengan lainnya berbeda sesuai dengan naluri yang dimilikinya. Inilah salah satu dari keunikan manusia, yang memiliki kelebihan dan potensi berbeda-berbeda. Ada ahli musik, kedokteran, ahli agama, ahli pendidikan dan seterusnya. Kesemua itu juga bagian dari aktualisasi diri, yang sama dengan potensi yang dimiliki seseorang.
Entah dari mana saya dengar, kalau hidup adalah sebuah pilihan. Sehingga memaksa saya untuk mulai detik ini saya harus memilih secepat mungkin, aktualisasi atau aktivitas mana yang menjadi pilihan utama. Oke, sekarang aku putuskan untuk memilih dunia goresan ide menjadi tempat aktualisasi diriku. Aku akan menjadikan dunia tulis menulis menjadi gaya hidupku. Aku tak ingin tulis menulis hanya menjadi sebuah hobi, yang terkadang hanya akan aku kerjakan saat aku senang dan waktuku luang.
Sangat berbeda tatkala menulis aku jadikan sebagai gaya hidupku, yang nantinya akan menuntutku untuk senantiasa menuliskan ide-ide ataupun gagasan yang aku miliki. Aku ingat betul yang menjadikan aku untuk memilih menulis sebagai gaya hidupku, atau ikrarku. Yaitu perkataan Al-Ghazali; “Jika engkau bukan anak raja, bangsawan atau ulama besar, maka jadilah penulis”.
Aku tak tau hari, minggu, bulan dan tahun berapa Al-Ghazali berkata seperti itu. Yang jelas aku mengetahui perkataan-perkataan penting Al-Ghazali hanya melalui karya-karyanya. Seakan aku kenal dekat, dan dia masih hidup saat ini. Padahal dia telah meninggal tahun 1111, tapi ia tetap hadir bersama kita. Taukah engkau wahai diri, kenapa ia sampai saat ini masih memberikan warna indah dalam dunia keilmuan? Sebab tulisan-tulisannya yang mengikat erat namanya untuk tetap hidup dan berkembang.
Teori-teori Ibn Khadun pun sampai saat ini masih tetap dibaca orang, dan dengan teori tersebut orang mampu mengembangkannya dengan menciptakan teori baru yang mampu memberikan manfaat kepada dunia saat ini. Imam Syafi’I pun demikian. Sampai saat ini yang menjadikan ia terkenal dan di ikuti ijtihadnya oleh banyak orang adalah dikarenakan hasil pemikirannya yang telah dituliskan dalam karyanya Ar-risalah dan lainnya.
Melalui dunia tulis menulis kita akan mampu mengaktualisasikan diri kita sampai kapan pun tanpa mengenal batas watu. Meski kita telah tiada namun karya kita senantiasa akan hidup. Karya tulisan kita akan tetap memiliki horizon yang tak akan hengkang di telan zaman. Masihkah engkau urungkan niat untuk menuju kesana wahai jiwa-jiwa penulis.
Saya tidak akan gentar pada siapapun untuk menuju kesana. Berbagai rintangan harus aku hadapi, motivasi harus aku jadikan pelumas keinginanku. Saya yakin kalau kita pasti mempunyai potensi yang sangat luar biasa. Dan untuk mengetahui potensi tak salah aku harus selalu mencoba dan mencoba. Aku ikrarkan diriku untuk menjadi penulis, seperti As-Syafi’I, Al-Ghazali, Harun Yahya, John Grisham, Stephen King dan Kyai Sahal.
Hal-hal penyumbat keinginanku untuk menulis segera mungkin aku singkirkan. Tak segan peraturan-peraturan ataupun cara menulis yang baik, kalaupun akan menjadi penghambat keberlangsungan produktivitas akan aku kubur dalam-dalam. Toh aturan main itu juga hasil karya manusia yang masih sarat akan kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan.
Dalam prinsipku, aku akan menciptakan ke-enjoy-an dalam menuangkan gagasan pemikiran. Sebuah metode penulisan efektif atau apapun namanya, semuanya hanyalah sarana untuk menjembatani agar kita dapat mengeluarkan gagasan kita secara sistematis dan jauh dari amburadul. Namun, apalah arti dari aturan main sebuah tulisan, kalau itu hanya akan menghambat, mengungkung pemikiran dan menjadikan ide terkapar ditengah jalan? (taufiq)

Komentar (1) »

SABAR, Solusi Problematika Umat untuk Menggapai Sa’adatud darain*

Oleh: Taufiqur Rohman **

Dewasa ini, banyak bermunculan aliran yang menawarkan solusi kehidupan ditengah banyaknya problem yang muncul. Mulai dari matrealisme, kapitalisme, liberalisme sampai neoliberalisme. Namun solusi yang mereka tawarkan ternyata belum mampu menjadikan kehidupan umat terpecahkan, melainkan masih menyimpan dan bahkan menambahkan problem yang lain. Sehingga keinginan manusia untuk meraih kebahagiaan sejati masih jauh untuk diraih.
Masyarakat masih banyak dibingungkan dengan permasalahan-permasalahan bersifat duniawi yang tiada ujungnya; perekonomian yang terus melilit, pendidikan yang menjauh dari visi-misi, moralitas yang semakin bertambah bobrok dan lain seterusnya. Konsekuensi logis dari problematika tersebut mengimplikasikan tumbuhnya jumlah angka frustasi dalam kehidupan ini. Yang lebih parah lagi bunuh diri merupakan alternatif terakhir atau menjadi solusi yang menjanjikan untuk melepaskan diri dari problematika kehidupan.
Dalam menghadapi permasalahan-permasalahan ada banyak bentuk penyelesaiannya, mulai dari rasional sampai yang tidak rasional. Ada yang menyelesaikan masalah dengan memakai pemikiran jernih; semisal tetap mempertahankan keadaan walaupun dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Masih mengharapkan jalan keluar dari Kuasa Ilahi dengan melakukan ikhtiyar, sabar dan mensyukuri ni’mat yang diberikan oleh Allah swt. Dan adapula yang memilih untuk menghadapi problematika hidup dengan meminta bantuan setan, berharap untuk mendapatkan kekayaan dengan waktu yang singkat melalui perantara dukun.
Dalam tulisan ini akan mencoba menawarkan solusi hasil dari penelitian pengalaman spiritual penulis tentang manfaat dan pengaruh SABAR dalam kehidupan kita. Menurut hemat penulis bahwa untuk mencapai Sa’adatud darain diperlukan ekstra kesabaran dan harus selalu ihtiyar serta tak lupa untuk mensyukuri ni’mat yang diberikan oleh Allah kepada kita.
Permasalahan yang cukup mendasar adalah; bagaimana menumbuhkan kesabaran di dalam diri kita dalam menghadapi persoalan dunia yang semakin amburadul. Apa manfaat dari sabar dalam menghadapi problem kehidupan. Hal-hal itulah yang akan di bahas dalam tulisan ini. Dengan tambahan hasil pengalaman penulis tentang ketiga unsur tadi dalam menghadapi permasalahan problematis. Sehubungan dengan pentingnya sebuah kesabaran dalam kehidupan umat manusia, perlu memikirkan bagaimana menumbuhkan sifat tersebut dalam pribadi manusia. Tentu saja, banyak cara untuk menumbuhkan sifat sabar dalam diri seseorang. Dalam tulisan ini hendak menyampaikan hasil penelitian penulis tentang kesabaran.
Pentingnya mengangkat tema ini karena dilatarbelakangi oleh banyaknya problem yang di hadapi manusia, namun tak di imbangi dengan pemahaman ajaran kegamaan. Sehingga terkadang jalan yang ditempuh masih bersebrangan dengan ajaran-ajaran agama, khususnya keIslaman. Padahal, sebenarnya dalam ajaran agama kita sudah memberikan jalan keluar tentang problem-problem yang di hadapi umat.
AL-Ghazali mengatakan bahwa Iman itu terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah syukur . Dapat dikatakan bahwa manusia sangat memerlukan sekali sifat dan sikap yang harus ditempuh dengan merujuk pada ajaran kegamaan untuk menghadapi problematika kehidupannya. Sehingga solusi yang di dapatkannya memang benar-benar bersih dari keinginan-keinginan berbagai pihak. Sebab ajaran agama langsung dari Tuhan untuk umat-Nya di muka bumi ini, sehingga dapat diyakini kemujarabannya.
Metode yang dipakai dalam tulisan ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan psikologis. Tujuan dari penggunaan metode ini adalah untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang muncul dan dihadapi orang. Dimana dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadan subyek/obyek peneltian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain –lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa sabar merupakan kunci untuk mengatasi problematika umat menuju sa’adatud darain.

Pengalaman Spiritual Penulis
Sebenarnya saya tidak bertujuan untuk mengkaji bahasan autobiografi diri saya secara khusus, namun pembicaraan tentang pengalaman empiris tentu memaksa saya untuk membicarakannya. Apalagi sebuah pengalaman merupakan hasil interaksi dari pemikiran umum yang tidak hanya terkait dengan pemikiran penulis saja, tetapi juga terkait dengan pemikiran lokal pada suatu masyarakat. Bahkan, ia juga mempunyai kaitan erat dengan pemikiran ilmiah yang dimiliki oleh manusia, khususnya jika terjadi kesalahan dalam pengalaman empiris yang terjadi secara terus menerus dalam kehidupan manusia dimana kesalahan seperti ini akan terus terjadi apabila manusia tidak berusaha untuk menjauhi penyebab terjadinya kesalahan-kesalahan tersebut.
Aku adalah anak ke-enam dari delapan saudara. Dalam tradisi keluargaku keteguhan watak haruslah terbentuk sejak dini. “Prinsip haruslah tertanam sebelum menghadapi kehidupan”, begitu kata orang tuaku yang selalu terngiang dalam telingaku dan merasuk dalam pikiranku sampai saat ini.
Saya teringat masa lalu ketika saya masih menjadi siswa di Madrasah Mathali’ul Falah Kajen. Ketika itu, saya kelas tiga Aliyah. Ambisi saya pada waktu itu untuk mampu mandiri atau berdikari sendiri dalam menjalani kehidupan ini. Aku tak ingin untuk merepotkan orang tuaku yang selama ini telah kurepotkan semenjak ruhku telah di tiupkan oleh Sang Pencipta seluruh jagat alam raya ini. Saat aku menghirup udara di dunia ini. Saat aku menginjakkan kaki di bumi-Nya. Saat kunikmati pendidikan taman kanak-kanak sampai kelas dua aliyah di Mathali’ul Falah.
Adalah kenistaan bagiku tatkala terus aku peras keringat orang tuaku untuk membiayai segala urusan kehidupanku. Sehingga aku putuskan untuk biaya sekolah sampai biaya kehidupan harus aku tanggung sendiri, agar kelak tak menambahi beban berat orang tuaku yang masih membiayai kehidupan dan pendidikan kakak serta adik-adikku.
Hampir setiap hari aku berfikir untuk mencari apa yang harus ku perbuat agar aku dapat melepaskan gantungan hidup pada orang tua. Aku pun mulai mencari pekerjaan yang pas untuk kondisi pribadiku. Namun sama sekali tak kudapatkan sedikit pun pencerahan untuk sampai pada anganku mendapatkan pekerjaan. Sampai pada saat pikiranku tak sanggup menemukan inspirasi penunjang jalan keluar dari jeratan kesedihan membebani orang tua, aku hampir putus asa.
Saat itu yang aku pikirkan hanyalah kekosongan dalam angan. Hidupku sejenak tak terarah. Hampir aku putuskan untuk berhenti sekolah tatkala tak kutemukan kerja untuk membiayai sekolah dan hidupku sendiri. Aku ingin fokus untuk mencari kerjaan. Namun setelah aku putuskan untuk berhenti sampai kelas tiga aliyah saja, sekejap terlintas dalam pikiranku dan hatiku berkata: sampai disinikah kau berfikir dan bertindak wahai jiwa pencari. Akankah kau bertindak dengan sebaliknya yang pernah kau katakan. Mana wujud perkataanmu yang sering berujar: janganlah berfikir dan bertindak pragmatis?
Huh, hanya sebatas itukah kemampuanmu dalam menghadapi masalah? berfikirlah yang jernih dan logis. Akankah jalan yang kau tempuh itu memang benar-benar sebuah solusi yang pas. Begitu lintasan pikiranku berujar. Setelah mengolah hasil ujaran pemikiranku, aku memutuskan untuk mengambil langkah dengan bersabar dalam menghadapi permasalahan yang sedang kuhadapi.
Saya tak tau, entah ini merupakan kurnia atau coba dari sang khaliq padaku. Hanya berselang hari dari keputusanku tadi, secara tiba-tiba aku mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah toko buku. Mas Yazid namanya, yang menawariku untuk menjadi penjaga toko bukunya di depan sarean KH. AH. Mutamakkin. Padahal sama sekali aku belum mengenal jauh atas dirinya. Dan juga mengapa dia memilihku. Ataukah ini jawaban atau hikmah dari sabarku yang hanya berjarak waktu dengan singkat itu. Ah…hanya Allah yang mengetahui semua. Dia-lah yang mengatur seluruh isi alam ini.
Perjalanan coba saya tak cukup sampai di situ. Setelah itu saya putuskan untuk tidak menerima lagi biaya sekolah maupun biaya hidup saya dari orang tua. Aku harus mandiri untuk menjalani sisa kehidupan. Dalam perjalanannya, saya harus membayar semua uang kegiatan yang belum sempat di lunasi orang tua. Karena saya sudah kelas tiga dan mendekati kelulusan, maka saya harus melunasi uang SPP dan uang kegiatan tahtiman mutakharijin. Yang kesemua itu membutuhkan biaya tidak sedikit.
Dalam waktu singkat aku harus mengumpulkan uang guna membayar SPP dan iuran PTM. Sedangkan gaji dari kerja saya pada awal-awal itu hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Kalau pun lebih paling-paling hanya sedikit dan tak cukup untuk menambal biaya sekolah.
Langkah yang saya tempuh adalah bersabar dengan rela untuk tak makan berhari-hari. Saya mengganjal isi perut hanya dengan air, agar kekuatan saya masih mampu untuk melakukan aktivitas-aktivitas belajar dan bekerja. Paling kalau mau makan saya harus menunggu makanan dari orang yang berkatan di makam Mbah Mutamakkin Kajen. Berhari-hari sampai minggu dan bulan aku menjalaninya. Demi untuk dapat membiayai kebutuhan sekolah, saya harus relakan bersabar untuk menahan lapar.
Namun saya tak merasa sedikit pun merasa tersiksa, karena di balik itu saya merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang tiada tara yaitu mampu membiayai sekolah dan kehidupan saya dengan tak bergantung lagi dengan orang tua. Dengan kesabaran akhirnya saya mampu melewati semua permasalahan dengan tabah, qona’ah, rileks dan tak merasakan sedikit pun gelisah. Semua entah hilang kemana setelah sabar menghiasi dan menghadapi problematika yang kuhadapi.
Sampai di sini saya mendapatkan pelajaran tentang arti sebuah kesabaran. Kesabaran ternyata mampu membuat seseorang menjadi tegar dalam menghadapi berbagai masalah. Selain itu saya dapat merasakan langsung getar pahit kehidupan. Dalam pikiran saya, apakah orang tua saya juga merasakan hal yang sama seperti yang aku alami saat itu. Andai semua manusia dalam menghadapi masalah dengan sikap sabar, mungkin Allah memberikan jalan terbaik untuk hambanya.
Sehingga saya tetap pada pendirian semula bahwa sabar merupakan solusi problematika umat untuk mencapai sa’adatud darain. Tentunya tak menafikan adanya ikhtiyar dan syukur. Ketiganya merupakan kaitan yang tak dapat di pisahkan tatkala manusia menginginkan adanya kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menumbuhkan Sifat Sabar dalam Diri Sendiri
Sabar merupakan sifat mulia yang sedikit di praktekkan orang. Sebab tak mudah untuk melakukan sifat satu ini, apalagi bersabar dalam menghadapi cobaan. Namun sabar sangatlah penting sekali bagi kita dalam menghadapi setiap masalah. Sabar merupakan sifat yang telah kita miliki dari pemberian Allah Swt. sebagai senjata kita untuk selalu tegar dalam menghadapi problematika kehidupan.
Setiap insan yang hidup di dunia ini tak ada yang bebas dari masalah, baik ringan maupun yang rumit pemecahannya. Sebab telah menjadi sunnatullah bahwa hidup adalah masalah dan manusia diciptakan di dunia ini untuk menghadapi masalah, yaitu manajerial atas bumi ini. Untuk mewujudkan manusia sebagai khalifah fi al-ard berkualitas, salah satu yang harus ditempuh adalah bersabar dalam menghadapi kehidupan ini. Begitu pentingnya sifat sabar dalam firman-Nya Allah memuji sifat itu:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Ali ‘Imran:200)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِن الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ َ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
“Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuuraa:43)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (Muhammad:31)
Dari firman Allah di atas, masihkah kita enggan belajar melatih diri untuk bersikap sabar dalam menghadapi masalah. Masihkah kita menjalani masalah dengan nggrundel dan memilih dengan menggunakan penyelesaian tak rasional. Padahal Allah telah menjanjikan kepada orang yang sabar dengan pahala yang tanpa batas. Hanya orang bodoh yang mengetahui kelebihan sesuatu namun tak mengamalkannya.

Keutamaan Sabar
Perlu diketahui bahwa di antara pertolongan yang baik dan tanda kebahagiaan adalah sabar terhadap segala musibah, dan tabah di dalam menghadapi berbagai bencana yang menimpanya. Untuk itulah, maka Al-Qur’an diturunkan, dan As-Sunnah di datangkan. Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Ali ‘Imran:200).
Abu Hurairah RA telah meriwayatkan, seraya dia berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda: “Tidakkah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus kesalahan di hadapan Allah, dan dapat mengangkat derajatmu di sisi-Nya?”, para sahabat menjawab: “Ya benar, wahai Rasulullah, belau menjawab: “Menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disenangi, banyak melangkahkan kaki ke masjid, menanti kedatangan suatu shalat setelah selesai melakukan suatu shalat, maka hal itu dapat menjadi pengikat yang memperkuatmu.
Al-Qur’an telah menganjurkan sabar, baik dalam melakukan suatu kewajiban atau dalam melaksanakan suatu anjuran, dan menjadikannya sebagai bagiaan dari ketakwaan. Diriwayatkan dari Nabi saw. seraya beliau bersabda: “Kesabaran itu penutup kesusahan”. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Kesabaran itu tunggangan yang tidak akan jatuh tergelincir, dan qana’ah itu pedang yang tidak akan meleset” .
Abdul Hamid berkata: “Aku tidak pernah mendengar suatu ungkapan yang lebih mengagumkan daripada ungkapan yang dikemukakan oleh Umar bin Al-Khatab RA, dimana beliau berkata: “Seandainya sabar dan syukur itu merupakan dua unta, maka aku tidak akan mempermasalahkan yang mana yang akan aku tunggangi dari keduanya”. Abdllah bin Abbas RA berkata: “Sebaik-baiknya perlengkapan adalah sabar dalam menghadapi kesulitan”. Sebagian ahli balaghah berkata: “Di antara temanmu yang terbaik adalah sabar dalam menghadapi kekacauan (kesulitan)”.
Dalam kitab “Mantsur Al-Hikam” dikatakan: “Barang siapa yang mencintai keabadian maka persiapkanlah hati yang penuh kesabaran dalam menghadapi segala musibah”. Sebagian hukama berkata: “Sabar dalam menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan, niscaya akan mendatangkan kebahagiaan”. Dalam kitab “Al-Yatimah” Ibnul Muqaffa’ berkata: “Kesabaran itu ada dua: kehinaan itu menimbulkan kesabaran pada jasad, dan pelaku kesabaran yang akan mendapatkan pujian bukanlah seseorang yang jasadnya kuat dalam bekerja dan berusaha yang sangat meletihkan, karena hal itu merupakan bagian dari sifat keledai, tetapi pelaku kesadaran yang akan mendapatkan pujian adalah orang yang menguasai hatinya, dan mencari jalan keluar dalam menghadapi segala urusan, serta memiliki hati yang tabah (sabar) .
Hakikat Kesabaran
Kesabaran terdiri dari pengetahuan, keadaan, dan amal. Pengetahuan didalamnya seperti pohon, keadaan seperti ranting dan amal seperti buah. Maka harus kita ketahui bahwa maslahat keagamaan terdapat pada kesabaran.
Seyogyanya seseorang dalam menghadapi problematika kehidupan harus menumbuhkan dan menanamkan sejak dini sikap untuk selalu bersabar. Hendaknya harus selalu di ingat bahwa di mana ada kesempitan atau kesulitan pasti ada jalannya. Serta yang cukup penting dan harus di ingat betul oleh manusia bahwa hidup adalah masalah dan kita hidup di dunia ini adalah untuk memecahkan masalah.

Daftar Pustaka
ALQur’an Al-Karim
AL-Ghazali, Mukhtasar ikhya’ Ulumuddin, penj. Zeid Husein Al-Hamid (Jakarta: Pustaka Amani, 2007)
Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, (Dar Ibn Katsir: Beirut, 1415H)
Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007)

* Di tulis untuk memenuhi tugas Mid Semester Mata Kuliah Tasawuf tentang Pengalaman Spiritual.
** Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam STAI Mathali’ul Falah Kajen-Margoyoso-Pati.

Komentar bertahan »

Membunuh Potensi Mesum Desa Kajen

Oleh: Taufiqur Rohman*

Desa Kajen merupakan salah satu desa yang telah di stigmatisasikan sebagai perkampungan santri. Keberadaan desa ini mempunyai peran penting atas partisipasi kota Pati dalam turut mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan pesantren. Di Kajen terdapat ribuan santri memelajari kitab-kitab dan menikmati kesejukan ilmu di pesantren. Ada 35 Pesantren di desa Kajen, dengan tipikal dan keunikan yang berbeda-beda sesuai pemikiran para pengasuhnya dan visi-misi yang di emban.
Selain menjadi bagian kecil kota Pati dalam partisipasi pembangunan bangsa melalui pendidikan, desa Kajen juga memberikan pengaruh dalam meningkatkan kemajuan perekonomian kota Pati. Keberadaannya, walau kondisi riil menyatakan bahwa desa Kajen secara geografis berada jauh dari kota dan luas hanya sekitar 46 hektar, namun desa Kajen telah membuktikan pengaruhnya di dalam meminimalisir kemiskinan masyarakat.
Desa kecil yang berada di area kecamatan Margoyoso, Pati bagian utara terbukti mempunyai potensi yang sangat membantu masyarakat untuk menjadi masyarakat yang terbebas dari jeratan arus global. Yaitu potensi keilmuan dan potensi ekonomi. Barangkali sudah tidak dipungkiri lagi bahwa kedua elemen tersebut mempunyai peran sangat penting dalam menghadapi persaingan global dewasa ini.
Seiring dengan berputarnya waktu, permasalahan yang di hadapi oleh desa Kajen semakin kompleks. Di dalam menghadapi kekeringan pengetahuan spiritualitas dan kebobrokan moralitas bangsa ini, Kajen harus dapat berpartisipasi aktif dalam memecahkan semua penghambat kemajuan kualitas umat. Agar nantinya desa Kajen senantiasa eksis di dalam memberikan kontribusi terhadap kota Pati dalam sekup terkecil dan negara ini dalam sekup yang lebih luas.
Untuk menuju dalam ranah yang cukup luas itu, Kajen terlebih dulu harus mampu membenahi kondisi bangunan fisiknya. Pengetahuan spiritualitas dan kebobrokan moralitas harus sudah terpecahkan di dalam masyarakatnya. Dalam arti kualitas spiritual dan moralitas masyarakat Kajen harus sudah mumpuni sebelum menularkan melalui para santri yang notabene di dominasi dari luar daerah.
Mencegah Mesum
Barangkali tak terlalu bombastis kalau saya mengatakan Kajen sedang terserang berbagai penyakit. Kajen yang dulu sangat sensitif dengan hal-hal terkait dengan masalah ma’siat, akhir-akhir ini seakan telah bermetamorfosis. Saat ini yang sedang menjalar dalam tubuh Kajen adalah munculnya potensi budaya mesum. Makam KH. Ahmad Mutamakkin yang menjadi sentral aktivitas spiritual masyarakat dan santri dalam waktu dekat ini telah mulai tercemari dengan aktivitas pacaran bahkan perbuatan mesum yang sering terjadi di sebelah barat makam.
Lebih ironis lagi, masyarakat mengetahui aktivitas yang bersebrangan dengan norma tersebut hanya diam tanpa reaksi sedikitpun. Seakan aktivitas mesum merupakan perbuatan lumrah yang tak perlu dicegah lagi. Padahal secara tak langsung hal tersebut sebenarnya menjadi tamparan keras desa Kajen. Identitas Kajen yang terkenal kental dengan budaya keagamaannya mulai terkapar di tengah ramainya zaman.
Tentu saja kesadaran dan tindakan progresif harus dilaksanakan berbagai pihak, tatkala kita menginginkan desa Kajen bersih dari budaya mesum yang kian hari menghiasi Kajen. Pertama, para sesepuh Kyai. Peran Kyai disini sangatlah berpengaruh, dengan kharisma yang dimiliki sangatlah mudah untuk menggerakkan masa dalam menyadarkan masyarakat akan pentingnya membersihkan hal terkait dengan pelanggaran norma. Kyai tak boleh menutup diri dengan fokus mengajar di pesantren saja, melainkan juga melihat perkembangan realitas kehidupan masyarakat.
Kedua, peran dari pemerintah desa. Pemerintah desa seharusnya mengambil tindakan tegas terhadap perilaku menyimpang (pacaran dan adegan mesum) yang dilakukan di area dekat makam. Makam KH. Ahmad Mutamakkin sebagai pusat area kegiatan keagamaan desa Kajen harus bersih dari hal-hal yang bersebrangan dengan norma adat yang berlaku. Agar nantinya pandangan masyarakat luas yang selama ini mengakui kualitas keagamaan desa Kajen dapat terjaga dengan baik.
Ketiga peran masyarakat. Masyarakat haruslah peka terhadap kondisi yang menggejala dalam lingkungannya, kalau tak ingin bertambah kacau bangunan fisik desa Kajen. Harus dengan sikap yang tegas dalam menanggulangi pacaran dan adegan mesum yang dilakukan disekitar makam KH. Ahmad Mutamakkin.
Sebagai desa Pesantren dan Pusat keagaaman kota Pati, kajen harus dapat mempertahankan diri dari gempuran-gempuran kema’siatan yang menggrogoti budaya keislamannya. Aktivitas pacaran dan mesum sebagai penghias Kajen saat ini harus segera di atasi dengan serius. Sehingga citra baik desa Kajen sebagai jantung keagamaan kota Pati senantiasa mengiringinya. Masyarakat dan santri harus selalu ingat bahwa antara konsep teori keislaman dan implementasi amar ma’ruf nahi munkar harus benar-benar teramalkan sebagaimana mestinya.

* Penulis adalah analis sosial, Mahasiswa STAI Mathali’ul Falah Kajen Margoyoso Pati.
IMG1181A

Komentar (2) »

Belajar dan Berkarya

Oleh: Taufiqur Rohman

Pendidikan adalah bagian inti dari kedaulatan dan martabat sebuah bangsa. Sebab melalui pendidikan, karakter dan pembentukan identitas seorang warga menjadi tumbuh dan berkembang. Namun persoalan yang telah mengakar dalam dunia pendidikan kita adalah mahalnya menikmati belajar di perguruan tinggi. Hal itu disebabkan minimnya anggaran pendidikan ditunjang oleh makin mengecilnya peran negara. Sehingga tak sedikit pemuda bangsa kita setelah lulus dari SLTA lebih memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.
Barangkali tak bisa dipungkiri kalau uang telah memperkenalkan diri sebagai minyak pelumas berjalannya proses pembelajaran. Sejak dini pendidikan telah memakan ongkos fantastis dengan dalih peningkatan mutu kualitas. Seringkali dicontohkan bagaimana pendidikan terbaik yang ada di Australia, Inggris, Amerika yang memakan biaya tidak sedikit.
Sebagai orang berpendidikan dalam menghadapi naiknya uang kuliah yang telah menjadi persoalan klasik dan sekaligus pelik, mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif. Mahasiswa tak boleh diam begitu saja tanpa bergerak sedikit pun atas kenaikan uang kuliah. Sikap kedewasaan harus ditunjukkan oleh mahasiswa dengan tanpa berpangku tangan meminta sepenuhnya biaya kuliah dari orang tua.
Beragam potensi yang dimiliki oleh mahasiswa haruslah di dayagunakan dengan maksimal. Mahasiswa harus lebih aktif dan kreatif lagi untuk berkarya. Sudah saatnya mahasiswa harus memberikan sumbangsih pemikiran maupun tindakan positif kepada negara. Baik dengan mendirikan usaha kecil-kecilan atau yang lebih dekat dengan dunia pendidikan dan terhormat yaitu menulis.
Alternatif paling efektif untuk ditempuh mahasiswa adalah menulis. Selain tidak menghabiskan banyak modal, waktu untuk fokus ke perkuliahan juga tak terabaikan. Dengan berkarya melalui dunia tulis menulis, eksistensi mahasiswa sebagai calon intelektual bangsa akan lebih diakui kualitas keilmuannya. Melalui menulis, mahasiswa juga akan mendapatkan pendapatan sampingan (honor tulisan) yang dapat digunakan untuk memenuhi biaya kuliah yang kian mahal.

Komentar bertahan »

BRAVO STAI Mathali’ul Falah

Oleh: Taufiq el-Rohman Ahmad

STAI Mathali’ul Falah (STAIMAFA) merupakan Perguruan Tinggi Swasta baru yang di dirikan oleh Yayasan Nurus Salam Kajen. Perguruan Tinggi Swasta ini berbeda dengan PTS lainnya. STAIMAFA sejak berdirinya sudah mengikrarkan diri dengan memakai basis Pesantren. Sehingga kalau di hitung, maka di negara ini hanya satu sebuah PTS yang berbasis Pesantren, yaitu STAIMAFA.
Awal di dirikannya sekolah tinggi ini berangkat dari kegelisahan para sesepuh dan pemikir di Yayasan Nurus Salam. Yang di dalam tulisan ini saya tidak akan memaparkannya, dan barangkali bila ingin mengetahui secara jelas dan rinci pembaca dapat melihat Statute atau proposal PTS tersebut. Sebab di dalam tulisan ini nantinya penulis tidak akan membahas sejarah berdirinya STAIMAFA, melainkan akan membahas permasalahan-permasalahan atau masukan terhadap STAIMAFA, kritik konstruktif atas realitas yang ada di STAIMAFA dan hal-hal lain penghambat STAIMAFA, yang kesemua itu bersentuhan dengan lembaga tersebut.
STAIMAFA mempunyai sebuah visi “Unggul dan terdepan dalam kajian dan terapan ilmu keislaman”, dan beberapa misi yang mentafsiri visi tersebut antara lain; Menyelenggarakan pendidikan tinggi Agama Islam berkualitas berbasis pesantren, Mendorong lahirnya muslim intelektual berwawasan kebangsaan, mandiri, memiliki komitmen sosial dan berakhlak mulia, dan Melakukan kajian dan penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan nilai-nilai keislaman dan pemberdayaan masyarakat.
Visi dan Misi STAIMAFA dapat dikatakan mendekati kesempurnaan. Dalam cita-citanya ia menginginkan agar mahasiswa STAIMAFA menjadi seorang muslim intelektual yang berkualitas serta bermoral. Untuk menuju ke cita-cita tersebut maka diperlukan sebuah perangkat ide pemikiran, sarana dan prasarana yang mampu mengantarkan ke cita-cita itu. Sangatlah penting bagi STAIMAFA untuk bersifat responsif dan terbuka atas kritik dan masukan dari pihak luar.
Untuk memenuhi cita-cita luhur di atas sebuah kontinuitas atau istiqomah di dalam mengasah keilmuan para mahasiswa sangatlah di butuhkan. Selain hal itu penyatuan visi-misi lembaga dengan visi-misi mahasiswa juga dibutuhkan. Ketimpangan visi-misi lembaga dan mahasiswa akan menyumbat laju STAIMAFA baik sisi kualitas maupun kuantitas.
Semoga dengan kehadiran STAIMAFA ini nantinya akan menjembatani dan menjadi proses penyatuan antara dunia akademik dan pesantren. Yang akhir-akhir ini sempat saling mengklaim dirinya paling sempurna dan jauh dari pemikiran yang kolot maupun terlalu mengedepankan rasio. Semoga!

Komentar bertahan »

Resensi

Terbunuhnya Materialisme
Oleh: Taufiqur Rohman

Judul Buku : Syekh Siti Jenar “Dunia Sebagai Alam Kubur”; Kritik Terhadap Kaum Materialis
Penulis : John Rinaldi
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun terbit : Desember 2008
Tebal buku: xvii + 228 halaman

Kematian merupakan suatu fenomena yang selalu menarik untuk dibicarakan karena setiap manusia pasti akan mengalaminya. Kematian merupakan bagian mutlak dalam sejarah kehidupan manusia. Meski fenomena kematian telah akrab didengar manusia, namun bukan hal yang mudah untuk menentukan kapan kematian itu benar-benar terjadi sehingga memunculkan banyak keraguan tentangnya.
Di lihat dari perspektif kedokteran, kematian terjadi bilamana fungsi spontan pernapasan (paru-paru) dan jantung telah berhenti secara pasti (ireversibel) atau otak, termasuk di dalamnya batang otak, telah berhenti secara total. Dengan demikian, kematian berarti berhentinya bekerja secara total paru-paru dan jantung atau otak pada makhluk.
Dalam pandangan agama Islam, kematian dipahami terjadi tidak hanya sekali, tetapi dua kali. Kematian pertama dialami manusia sebelum kelahirannya, atau pada saat Tuhan belum meniupkan ruh kehidupan kepadanya; sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia yang fana ini. Kematian terjadi bila unsur ruh dan unsur jasad itu terpisah. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa kematian merupakan putusnya ruh dari tubuh (al-Ghazali, 1986: 5).
Sementara itu, Martin Heidegger (1889-1976) menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia memiliki keterbatasan dalam hal waktu. Terbukti dari kenyataan bahwa dia dilemparkan-tanpa pilihannya-ke dalam kematian dan dibelakangnya selalu menyertai bayangan akan ketiadaan-nya.
Berbeda dengan Heidegger yang meyakini bahwa kehidupan bertolak dari kematian, Jean Paul Sartre (1905-1980) menegaskan, justru kematianlah yang bertolak dari kehidupan. Dia tidak sependapat dengan Heidegger yang mengatakan bahwa kehidupan merupakan persiapan bagi kematian. Kematian, menurut Sartre, adalah suatu kenyataan yang muncul secara tiba-tiba dan buta, sehingga manusia tidak akan mampu untuk memahami dan mengontrolnya. Kematian menjadi akhir kehidupan manusia yang penuh dengan kesia-siaan. Disebabkan kematian, semua kemungkinan yang telah kita realisasikan dalam kehidupan dimusnahkan.
Kedua pendapat tentang kematian di atas, sangat bertolak dengan makna kematian yang disampaikan oleh Syek Siti Jenar dalam ajarannya. Menurut dia, proses kematian itu bukan akan terjadi melainkan sedang terjadi. Kematian itu terjadi bukan pada fase berikutnya dari kehidupan saat ini, melainkan saat ini dan di dunia ini kematian sedang berlangsung. Fase kehidupan di dunia ini menurut Syekh siti Jenar adalah fase kematian.
Di dunia ini tidak ada kehidupan, yang ada hanyalah kematian. Makhluk penghuni dunia ini bukan merupakan makhluk hidup, tetapi bangkai yang menanggung derita dan siksa. Menurut Syekh Siti Jenar bahwa hidup yang sesungguhnya tidaklah tersentuh oleh kematian. Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang kekal dan abadi. Bila kehidupan yang ada itu masih dibatasi oleh kematian, maka menurut Syekh Siti Jenar, hal itu belum bisa disebut sebagai kehidupan. Manusia dengan lilitan jasad yang ada padanya sesungguhnya adalah mayat.
Hidup sejati, menurut Syekh Siti Jenar, tak tersentuh kematian. Badan, yang berupa tulang, sumsum, otot dan daging, hanyalah perangkap bagi kehidupan. Dia menganggap bahwa hidup di dunia ini adalah tersesat. Hidup yang sebenarnya itu tanpa raga. Justru adanya raga ini yang menimbulkan banyak penyesatan, godaan, iblis dan setan. Raga adalah kerangkeng bagi diri atau jiwa. Dengan raganya manusia menjumpai banyak neraka. Dengan raganya manusia merasakan banyak penderitaan.
”Manusia harus keluar dari dunia”, kata si Syekh. Mengeluarkan dunia dari hati, menghindarkan hati dari ketergantungan terhadap dunia. Dunia harus berada dalam genggaman manusia, bukan manusia berada dalam genggaman dunia. Manusia yang mengendalikan dunia, bukan dunia yang mengendalikan manusia.
Pandangan Syekh Siti Jenar tentang kehidupan sebagai kematian sama halnya membunuh paham materialisme yang meyakini bahwa di dunia inilah kehidupan yang sesungguhnya. Kematian dalam keyakinan materialisme adalah akhir segalanya. Sedangkan menurut konsep kematian Siti Jenar, apa yang diyakini oleh penganut paham materialisme kehidupan adalah kematian.
Sampai saat ini, Syekh Siti Jenar masih menjadi tokoh kontroversial di tengah jagad pemikiran Islam Jawa. Hal itu menjadikannya hingga saat ini tetap relevan untuk dikaji. Bukan hanya sosoknya yang diperdebatkan, apakah ia merupakan sosok historis yang pernah hidup di negeri ini (khususnya di tanah Jawa) ataukah hanya sekedar mitos yang beredar di masyarakat Jawa, namun juga pemikirannya yang kerap kali bertentangan dengan Islam murni.
Buku ini tidaklah dimaksudkan untuk membeberkan sejarah hidup Syekh Siti Jenar, karena itu merupakan bagian bidang kajian sejarah. Dalam buku ini John Rinaldi berusaha untuk membeberkan inti ajaran Syekh Siti Jenar yang mengundang kontroversi di tengah masyarakat (baca: perdebatan antara Islam Murni dan Islam Jawa), terutama terkait dengan pandangannya tentang hakikat kematian. Tidak bisa dipungkiri bahwa pandangannya tentang hakikat kematian sangat jauh berbeda dengan arus utama pemikiran dalam Islam.
Demikianlah salah satu bagian pemikiran Syekh Siti Jenar yang memandang dunia sebagai ’alam kubur’ dan manusia-manusia yang ada di atasnya sebagai ’bangkai-bangkai’ yang berbau busuk. Manusia mengalami neraka di dalam dunia. Dalam Pemikirannya, Syekh Siti Jenar menegaskan bahwa surga dan neraka keberadaannya bukan nanti, melainkan saat ini.
Hal- hal seperti itulah yang akan di kupas dalam ’Syekh Siti Jenar Dunia Sebagai Alam Kubur’ ini. Penulisnya, John Rinaldi di dalam buku ini mampu menggambarkan alur pemikiran yang bisa dipergunakan untuk memahami setiap ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar secara detail, sehingga pembaca akan menemukan banyak informasi baru tentang Syekh Siti Jenar yang tidak sekedar ringkasan kisah.

Penulis bertempat tinggal di Kajen-Margoyoso-Pati 59154 depan Sarean KH. Ahmad Mutamakkin HP. 081390651970

Komentar (2) »

Proposal Penelitian Metode Penulisan Karya Ilmiah dengan tema Pesantren dan Teknologi

Tantangan Pesantren Kajen di Arus Modernitas

Oleh: Taufiqur Rohman

Kata Kunci: Pesantren, Teknologi, Perubahan, Perilaku, Pola Pikir, Santri.

A. Pendahuluan

Sebagai perkampungan keagamaan Islam yang distigmatisasikan sebagai desa santri, Desa Kajen[1] kini telah mengalami perkembangan intelektualitas yang cukup mengagumkan[2]. Desa kecil yang sarat akan potensi ini telah banyak memberikan sumbangsih kepada negara baik dalam pendidikan maupun ekonomi.

Dalam pendidikan, sejak berkembangnya pendidikan keagamaan melalui pondok pesantren dan madrasah desa Kajen terbukti mencetak ratusan bahkan ribuan intelektual yang tersebar di seluruh nusantara ini. Kyai Sahal (Ketua Umum MUI Pusat dan Ra’is Aam PBNU), Anis Malik, Ulil Absor Abdalla adalah contoh sebagian kecil intelektual dari desa ini. Ketiga contoh itu bermula dari hasil didikan pesantren desa Kajen.

Dari segi perekonomian, meski desa ini lebih kecil di banding dengan desa sekitarnya, seperti Waturoyo, Ngemplak, Bulumanis, namun memiliki kelebihan di dalam peningkatan perekonomian umat. Hal tersebut tidak lepas dari andil keberadaan pesantren yang menjadikan sumber utama penghasilan masyarakat Kajen[3].

Seiring dengan berkembangnya teknologi, hasil out put pendidikan pesantren Kajen tidak terlepas dari peranan dan fungsinya. Melalui internet, hand phone merupakan bagian dari teknologi yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perubahan prilaku dan pemikiran seseorang. Pola pikir ataupun gaya hidup para santri pun tak terlepas dari perkembangan teknologi yang begitu pesat.

Peran sebuah teknologi ibarat sebuah pisau yang tajam. Bila digunakan kepada hal positif, pisau akan memberikan manfaat, semisal untuk menolong orang, memotong hewan, untuk memasak dan lainnya. Namun ketika digunakan untuk hal yang tidak baik pisau dapat digunakan untuk membunuh orang atau tindakan kejahatan lainnya. Begitu pun teknologi, teknologi dapat membantu manusia dengan mempermudah kinerja dan juga dapat merusak tatanan kehidupan tatkala tidak digunakan dengan baik.

Peran teknologi di dalam menunjang pengetahuan dan mempermudah para santri untuk mengembangkan ilmunya tidak diragukan. Namun sampai saat penelitian ini dibuat pesantren Kajen di dalam memfasilitasi teknologi untuk santri masih dapat dikatakan sangat minim[4]. Sehingga banyak usahawan yang membuka jasa rental komputer, warung internet di sekitar pesantren Kajen. Yang lebih menyedihkan para perental dapat mengakses dengan bebas sesuai dengan keinginan yang dikehendaki.

Selain banyaknya jasa rental internet, di desa Kajen juga muncul warung hand phone dan pulsa atau sering disebut counter. Berjalannya dengan waktu keberadaan counter semakin menjamur di sekitar pesantren. Maka tak heran kalau jumlah counter di desa santri ini terbanyak di kawasan Pati Utara, bahkan se-Kabupaten Pati.[5]

B. Perumusan Masalah

Permasalahan yang cukup penting dan patut untuk di teliti adalah seberapa besar pengaruh perkembangan kedua teknologi tersebut (internet dan hand phone) terhadap pola pikir dan perilaku santri Kajen setelah menjamur di tengah kehidupan mereka. Apakah kedua teknologi tersebut memberikan dampak ke arah positif ataukah negatif, baik dari segi kualitas pendidikan, finansial dan moralitas santri. Berapa rotasi keuangan per-bulan di desa kajen setelah merebaknya rental dan berkembangnya kedua teknologi tersebut.

C. Alasan Penelitian

Alasan pemilihan obyek pesantren di desa Kajen adalah karena selama ini, desa kecil yang sarat potensi akan keilmuan dan perekonomian masih belum menjadi perhatian khusus untuk menguak secara lebih mendalam. Lebih-lebih dari Pemerintah setempat yang kurang memperhatikan perkembangan kualitas pesantren Kajen dan Kuantitas perekonomiannya.

Pemerintah masih lepas tanggung jawab sosial akan berubahnya pola pikir maupun perilaku santri seiring menjamurnya teknologi di sekeliling kehidupan santri. Sehingga dampak atau pengaruh dari perkembangan teknologi terhadap santri Kajen masih belum tercover dalam satu bentuk tulisan yang di jadikan bahan koreksi dan perbaikan-perbaikan selanjutnya.

Disamping itu ternyata desa Kajen memiliki potensi keilmuan cukup tinggi yang patut di perhatikan perkembangannya. Apakah di desa ini potensi keilmuannya semakin meningkat, stagnan atau bahkan mengalami kemunduran semenjak berkembangnya sebuah teknologi.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku dan pola pikir santri Kajen sebelum dan setelah berkembangnya teknologi di desa Kajen. Selain itu manfaat penelitian ini adalah untuk menguak lebih jauh tentang potensi perekonomian yang dimiliki oleh desa Kajen sebelum dan setelah berkembang pesatnya teknologi di desa Kajen. Sehingga gambaran yang lebih jelas tentang perkembangan Pesantren Kajen sangat penting untuk memberi saran dan masukan kepada instansi terkait dan masyarakat setempat.

E. Telaah Pustaka

Membahas soal pesantren tidak akan pernah kering untuk dikaji. Keunikan tersendiri yang dimiliki pesantren menjadi hal menarik untuk di teliti. Sehingga banyak ilmuan dan pemikir yang meneliti tentang persoalan yang berkaitan dengan dunia pesantren. Rata-rata para pengkaji pun tak hanya dari kalangan pesantren, namun dari luar pesantren bahkan luar negeri pun banyak yang tertarik untuk meneliti keunikan-keunikan yang dimiliki pesantren. Sehingga muncul ratusan bahkan lebih kajian tentang pesantren, mulai bentuk karya ilmiah (seperti skripsi, tesis dan disertasi) sampai tulisan populer.

Namun karya-karya tentang pesantren yang sudah ada rata-rata masih bersifat umum dalam menggambarkan kehidupan sosial keagamaan dunia pesantren; seperti Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia,[6] “Pondok Pesantren dalam Perjalanan Sejarah”,[7] “Tradisi Pesantren: Suatu Studi tentang Peranan Kyai dalam Memelihara dan Mengembangkan Ideologi Islam Tradisional”,[8] Pergulatan Pesantren, Membangun dari Bawah,[9] Pesantren dan Pembaharuan,[10] Islam Observed,[11] Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara,[12] Kerajaan Islam Nusantara abad XVI- XVII,[13] Gerakan Modern Islam di Indonesia 1990-1994,[14] dan Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII.[15]

Kajian ataupun penelitian secara lebih khusus tentang pesantren dan teknologi dapat dikatakan masih minim. Penelitian yang sering diselenggarakan oleh Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama RI. rata-rata hanya berkaitan potensi yang dimiliki oleh pesantren, baik mulai dari sejarah berdirinya, metode pembelajaran sampai pada perkembangannya. Seperti Strategi Adaptasi Pondok Pesantren[16], Pesantren Argo Bisnis; Pendekatan Formula Area Multi Fungsi dan Model Konsesi Pemberdayaan serta Profil Beberapa Pesantren[17].

Secara jelas penelitian tentang pondok pesantren dan teknologi dapat dikatakan minim, lebih-lebih pesantren yang berada di desa Kajen. Kalau pun ada penelitian yang mengkaji tentang pesantren di Kajen melainkan dari aspek lain, seperti karya disertasi Dr. Zubaedi yang berjudul ”Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren; Kontribusi Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh dalam Perubahan Nilai-nilai Pesantren.”, karya Faiqoh Nyai; Agen Perubahan di Pesantren.

Kedua buku tersebut membahas bagian pembahasan yang berbeda. Buku karya Zubaedi berisi tentang pemikiran Kiai Sahal perihal dialektika perumusan konsep fiqh sosialnya, muatan konsep fiqh sosialnya dan aktualisasi konsep fiqhnya dalam kegiatan pengembangan masyarakat[18]. Sedangkan buku hasil karya Faiqoh di atas membahas tentang peran perempuan pesantren (Nyai) di dalam pemberdayaan perempuan di pesantren dan masyarakat, yang secara khusus mengajukan kasus mengenai peranannya Nyai Nafisah Sahal yang mendirikan Pesantren Perempuan AL-Badi’iyyah[19].

Di samping karya di atas masih banyak karya mengenai pesantren yang dikaji dari berbagai perspektif. Namun dari telaah pustaka yang telah ada sampai tulisan proposal ini dibuat, secara jelas belum ada pembahasan yang meneliti tentang Tantangan Pesantren Kajen di Arus Modernitas, terkhusus berkait dengan Teknologi Internet dan Hand Phone di Pesantren Kajen.

F. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Studi lapangan dilakukan dengan memilih Pesantren desa Kajen dalam tantangan arus Modernitas. Pesantren desa Kajen dipilih karena potensi pesantren desa ini telah terbukti dengan keberadaan jumlah sebanyak 27 pesantren. Sehingga menjadi pertimbangan untuk melakukan penelitian mengenai perkembangan moral, pendidikan, pola pikir santri setelah masuknya teknologi di sekeliling kehidupan santri.

Dengan metode field research, peneliti terjun langsung menggali data dilapangan dengan cara observasi terlibat, wawancara serta melakukan deskripsi di lapangan untuk memelajari masalah-masalah dalam pesantren tentang perubahan nilai atau pandangan, prilaku serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena[20]. Wawancara kepada pengasuh, para pengurus pesantren, para santri, pemuka masyarakat, pengusaha jasa Warnet dan conter serta pihak-pihak lain yang terkait dengan pesantren dimaksudkan untuk mendengar keterangan dari mereka tentang fakta-fakta, kejadian yang mereka alami dan mereka ketahui[21]. Dalam memaknai penelitian ini, peneliti melakukan studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai literatur, dokumen dan karya-karya lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini. Guna lebih menyempurnakan hasilnya maka selama penelitian maupun penulisannya penulis menggunakan metodologi penelitian sosial yang telah ada[22].

Penelitian ini bersifat kualitatif-fenomenologik. Penelitian kualitatif tertarik pada pemberian makna dan mencari esensi yang diperolehnya sendiri dari pengajaran agama di pesantren dan implementasinya di lapangan. Peneliti memahami proses pengembangan santri Kajen yang berhadapan pada tantangan modernitas. Dalam pandangan fenomenologik, penelitian bermakna memahami peristiwa-peristiwa dalam kaitannya dengan orang dalam situasi tertentu[23]. Dengan karakteristik penelitian ini maka arah penelitian secara garis besar bermuara mempertemukan atau mendialogkan antara ajaran keagamaan pesantren dengan pengaruh perkembangan teknologi.

1. Sumber dan Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survey dengan mewawancarai sejumlah responden yang terpilih, yaitu Pengasuh Pesantren, Santri dan Pengusaha Jasa Wartel dan Counter.. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan pada instansi terkait mulai dari semua Pondok Pesantren sampai kantor desa Kajen.

2. Analisis Data

Analisis data dimulai dengan tabulasi data dilanjutkan dengan tabulasi silang dan analisis deskriptif. Demikian pula dengan data sekunder dianalisis secara deskriptif, untuk selanjutnya kedua data ini diinterpretasi dengan bantuan hasil wawancara mendalam dengan para informan kunci[24].

3. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Maret 2009, berlokasi di Desa Kajen, kecamatan Margoyoso, kabupaten Pati.

G. Sistematika Pembahasan

Seluruh isi penelitian disajikan dalam empat bab uraian, dengan pembagian; satu bab pendahuluan, dua bab isi dan analisis dan satu bab terakhir berisi kesimpulan dan rekomendasi. Dua bab isi menguraikan kondisi realitas sosio kultural masyarakat desa, mulai dari sejarah keberadaan desa sampai pada jumlah pondok yang ada di desa Kajen serta metode pendidikan yang dipakai masing-masing pesantren yang ada di pesantren Kajen, dan juga mengkaji tentang tantangan yang harus di hadapi pesantren Kajen guna mempertahankan kultur pesantren atas berkembangnya teknologi di desa Kajen.

Bab pertama, pendahuluan memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan diakhiri dengan sistematika pembahasan. Secara keseluruhan uraian pada bab pertama merupakan penjelasan awal tentang titik tolak atau cara pandang dan pendekatan yang dipakai serta merupakan pertanggungjawaban penulis tentang proses penelitian ini.

Bab kedua, membahas tentang kondisi realitas sosio kultural masyarakat desa Kajen, mulai dari sejarahnya munculnya desa Kajen dan munculnya pondok Pesantren. Menurut peneliti kedua permasalahan tersebut sangat penting untuk ditelusuri lebih jauh, sebab kedua pembahasan itu yaitu keadaan realitas dan sejarah munculnya keberadaan desa dan pondok sangat mempengaruhi kondisi perkembangan selanjutnya.

Bab ketiga, mendeskripsikan tantangan yang harus di hadapi pesantren Kajen guna mempertahankan kultur pesantren atas berkembangnya teknologi dewasa ini. Pembahasan pada uraian ini mengkaji secara mendalam perkembangan pesantren kajen saat ini dengan pendekatan analisis fenomena dan data.

Uraian dalam bab tiga ini diharapkan memberikan dasar-dasar argumentasi bahwa perubahan-perubahan baik prilaku, pola pikir dan keilmuan masih ada kaitannya dengan perkembangan dunia luar pesantren yang bersifat dinamis.

Bab kelima, merupakan bab terakhir terdiri dari kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan memuat sejumlah jawaban terhadap rumusan masalah dari semua temuan penelitian dan mengklarifikasi kebenaran serta kritik yang dirasa perlu untuk merevitalisasi peranan teknologi terhadap perubahan pada pesantren kajen di masa sekarang dan mendatang.

[1] Kajen adalah salah satu desa di kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah. Letak geografis desa ini berada 18 KM di sebelah utara kota Pati.

[2] Jumlah santri di desa Kajen ada 4500 orang dari 27 Pesantren, di lihat dari luas desa Kajen secara kuantitas itu merupakan prestasi yang cukup membanggakan.

[3] Luas desa Kajen hanya sekitar 63 hektar. Hampir seluruh tanah di situ berupa pekarangan. Tidak ada sawah sepetak pun di desa itu. Luas tegalan seluruhnya hanya 4 hektar yang terselip di antara rumah penduduk. Karena tidak ada lahan pertanian rata-rata masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang.

[4] Kalau pun ada itu hanya satu yaitu Pesantren Maslakul Huda yang di asuh oleh KH. MA. Sahal Mahfudh.

[5] Jumlah rental computer di desa Kajen terdapat 7 tempat, warnet ada 6 tempat dan Jumlah counter yang berada di sekitar pesantren Kajen, khususnya di Jalan Raya Ronggo Kusumo, berjumlah sekitar 110 counter.

[6] Marwan Saridjo dkk. (ed.), Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia (Jakarta: Penerbit Dharma Bhakti, 1982).

[7] Ahmad Janan Asifudin, “Pondok Pesantren dalam Perjalanan Sejarah”, al-Jami’ah, 1994.

[8] Zamakhsyari Dhofier, “Tradisi Pesantren: Suatu Studi tentang Peranan Kyai dalam Memelihara dan Mengembangkan Ideologi Islam Tradisional”, dalam Prisma, 1981.

[9] M. Dawam Rahardjo (ed.), Pergulatan Pesantren, Membangun dari Bawah (Jakarta: P3M, 1985).

[10] M. Dawam Rahardjo (ed.), Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta: LP3ES, 1974).

[11] Clifford Geertz, Islam Observed (New Hoaven and London: Yale University Press, 1968).

[12] Abdullah dan Sharon Siddique (ed.), Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, cet. 1 (Jakarta: LP3ES, 1989).

[13] M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara abad XVI-XVII, cet. 1 (Yogyakarta: Penerbit Kurnia Kalam Sejahtera, 1415/1995).

[14] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1994, cet. 8 (Jakarta: LP3ES, 1996).

[15] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, cet. 1 (Bandung: Mizan, 1415/1994).

[16] Ahmad Susilo, Strategi Adaptasi Pondok Pesantren, (Jakarta: Kucica, 2003)

[17] Departemen Agama RI, Pesantren Argo Bisnis; Pendekatan Formula Area Multi Fungsi dan Model Konsesi Pemberdayaan serta Profil Beberapa Pesantren, (Jakarta: Direktoral Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2004)

[18] Zubaedi, Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren; Kontribusi Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfud dalam Perubahan Nilai-nilai Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) hlm. 6

[19] Faiqoh, Nyai Agen Perubahan di Pesantren, (Jakarta: Kucica, 2003) hlm. 23

[20] Robert Bogdan & Stevan J Taylor, Introduction to Qualitative Methods Research, A Phenomenological Approach to Sosial Sciences (New York: John Willey & Son, 1975), hlm. 33

[21] L. Adam, Methods and Forms of Investigation and Recording of Native Costumary Law in The Netherlands East Indies before the War (Oxford: Oxford University Press, 1952), hlm 5.

[22] Atho Mudzar, Pendekatan Studi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 7.

[23] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 1995), hlm. 23.

[24] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian…hlm. 25.

Komentar (6) »